Senin, 14 Februari 2011

Ahmadiyah, Islam atau Bukan?

Saat saya bertanya kepada intelektual muda Nahdatul Ulama, Zuhaeri Misrawi, "Ahmadiyah itu Islam atau bukan?" Maka, Misrawi yang lebih populer dengan panggilan Gus Mis ini hanya mengungkap bahwa Ahmadiyah adalah salah satu sekte dalam Islam yang muncul di Qadian dengan tokohnya Mirza Ghulam Ahmad.

Dalam konstelasi Islam, Ahmadiyah memang unik. Di beberapa negara, seperti di Arab dan Pakistan, pengikut Ahmadiyah dimusuhi secara terang-terangan. Bahkan, di Pakistan, Ahmadiyah harus "keluar" dari Islam dan membentuk agama baru yang bernama Ahmadi. Dengan demikian, jika kalangan Ahmadiyah di Pakistan hendak menunaikan ibadah haji, mereka harus keluar dulu dari negara tersebut lantaran pemerintah setempat hanya memberi izin naik haji kepada yang beragama Islam sesuai yang tercantum di paspor.

Namun, lantaran "dimusuhi" itulah, Ahmadiyah justru kerap menjadi perbincangan dan nama kelompok ini pun salah satu mashab yang paling dikenal di dunia selain Suni di Irak dan Syiah di Iran. Kenapa umat Islam marah kepada Ahmadiyah? Menurut mereka yang anti-Ahmadiyah, faham Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran pokok Islam.

Kalangan mainstream berpegang pada tafsir bahwa Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah penutup para Nabi. Maka, siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam karena berarti telah mendustakan ayat-ayat Al Quran dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sebagai penutup para nabi.

Di antara inti persoalan ketegangan tersebut adalah QS : Al Ahzab Ayat 40 berbunyi: "Maa kaana muhamadun abaa ahadin min rijalikum walakin rasullalahi wa khotamannabiyyin". Kalangan Islam mainstream menerjemahkan ayat ini sebagai berikut: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki dari kamu, tetapi dia adalah Rasullullah dan penutup Nabi-nabi. Dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".

Sementara Ahmadiyah menerjemahkannya, "Muhamad bukanlah bapak dari seorang laki-laki kamu, tetapi ia adalah seorang Rasul dan "Khatamanabiyyin". "Khatamanabiyyin" oleh pengikut Ahmadiyah diterjemahkan sebagai Nabi paling mulia dan nabi penutup yang membawa syariat.

Friksi berikutnya adalah tentang Nabi Isa AS. Umat Islam meyakini Isa tidak wafat, melainkan diangkat oleh Allah untuk kemudian diturunkan kembali pada akhir zaman untuk memerangi musuh-musuh Islam. Qs: 4:157: dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya Kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi(yang mereka bunuh ialah) orang serupa dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang orang yang berselisih faham tentang (pembunuhan) Isa, benar benar dalam keraguan tentang yang di bunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang di bunuh itu, kecuali mengikuti perasangka belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Sementara itu Ahmadiyah meyakini, Isa atau Imam Mahdi yang dipersonifikasikan sebagai Mirza Ghulam Ahmad telah meninggal dan dikuburkan.

Tentu saja persoalan yang muncul tak sesederhana itu. Bahkan, dialog-dialog yang telah dilakukan di antara dua kelompok yang "bersengketa" itu pun hingga kini tak pernah menemukan jalan keluar yang melegakan semua pihak.

Secara demografis, pergerakan Jemaat Ahmadiyah telah menyebar ke beberapa negara. Ahmadiyah mengaku memiliki cabang di 174 negara yang tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia, dan Eropa. Dalam situs Ahmadiyah tertulis, saat ini jumlah anggota mereka di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang.

Jemaat ini membangun proyek-proyek sosial, lembaga-lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, penerbitan literatur-literatur Islam, dan pembangunan masjid-masjid.

Gerakan ini menganjurkan perdamaian, toleransi, kasih, dan saling pengertian di antara para pengikut agama yang berbeda. Menurut Ahmadiyah, gerakan ini sebenar-benarnya percaya dan bertindak berdasarkan ajaran Al Quran: "Tidak ada paksaan dalam agama" (2:257) serta menolak kekerasan dan teror dalam bentuk apa pun untuk alasan apa pun.

Pergerakan ini menawarkan nilai-nilai Islami, falsafah, moral dan spiritual yang diperoleh dari Al Quran dan sunnah Nabi Suci Islam, Muhammad SAW. Beberapa orang Ahmadi, seperti almarhum Sir Muhammad Zafrullah Khan (Menteri Luar Negeri pertama dari Pakistan; Presiden Majelis Umum UNO yang ke-17; Presiden dan Hakim di Mahkamah Internasional di Hague) dan Dr Abdus Salam (peraih hadiah Nobel Fisika tahun 1979) telah dikenal karena prestasi dan jasa-jasanya oleh masyarakat dunia.

Ahmadiyah Qadian dan Lahore

Terdapat dua kelompok Ahmadiyah. Keduanya sama-sama memercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa al Masih yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, dua kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip:

1. Ahmadiyah Qadian, di Indonesia dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Bogor), merupakan kelompok yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaru) dan seorang nabi yang tidak membawa syariat baru.

2. Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Yogyakarta), adalah kelompok yang secara umum tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekadar mujaddid dari ajaran Islam.

Selengkapnya, Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka:

1. Percaya pada semua akidah dan hukum yang tercantum dalam Al Quran dan hadis, serta percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui para ulama salaf dan ahlus-sunnah wal-jama'ah dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. 2. Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru. 3. Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwwat kepada siapa pun. 4. Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat: walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40) dan berarti membuka pintu khatamun-nubuwwat. 5. Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka agar iman dan akhlak umat tetap cerah dan segar. 6. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, tetapi tidak akan datang nabi. 7. Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan, menurut hadis, mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid. 8. Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman. Maka, orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir. 9. Seorang Muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat tidak bisa disebut kafir. 10. Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW.

Ahmadiyah di mata ulama Islam

Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900 M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum Muslim dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/bentuk khusus sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani. Corong gerakan ini adalah Majalah Al-Adyan yang diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Sementara Mirza Ghulam Ahmad hidup pada tahun 1835-1908 M. Dia dilahirkan di Desa Qadian, di wilayah Punjab, India, tahun 1835 M. Dia tumbuh dari keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa menaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum Muslimin bergabung menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya, dia dikenal sebagai orang yang suka menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pencandu narkotik.

Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada Pemerintah Inggris.

Di antara yang melawan dakwah Mirza Ghulam Ahmad adalah Syaikh Abdul Wafa’, seorang pemimpin Jami’ah Ahlul Hadis di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam Ahmad, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya.

Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa’ mengajaknya ber-mubahalah (berdoa bersama) agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka dan yang benar tetap hidup. Tidak lama setelah bermubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908 M.

Pada awalnya, Mirza Ghulam Ahmad berdakwah sebagaimana para dai Islam yang lain sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaru). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi Al-Muntazhar dan Masih Al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian Nabi kita Muhammad SAW.

Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin, serta artikel hasil karyanya.

Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul Auham, I’jaz Ahmadi, Barahin Ahmadiyah, Anwarul Islam, I’jazul Masih, At-Tabligh, dan Tajliat Ilahiah.

Menurut para penentang Ahmadiyah, permulaan ketenarannya dimulai dengan seolah-olah membela Islam. Setelah ia meninggalkan pekerjaan kantornya, ia mulai mempelajari buku-buku India Nasrani sebab pertentangan dan perdebatan pemikiran begitu santer terjadi antara kaum Muslimin, para pemuka Nasrani, dan Hindu. Kebanyakan kaum Muslimin sangat menghormati orang-orang yang menjadi wakil Islam dalam perdebatan tersebut. Segala fasilitas duniawi pun diberikan kepadanya. Ghulam Ahmad berfikir bahwa pekerjaan itu sangat sederhana dan mudah, mampu mendatangkan materi lebih banyak dari pendapatannya saat bekerja di kantor.

Untuk mewujudkan gagasan yang terlintas dalam benaknya, pertama kali yang ia lakukan ialah menyebarkan sebuah pengumuman yang menentang agama Hindu. Berikutnya, ia menulis beberapa artikel di beberapa media massa untuk mematahkan agama Hindu dan Nasrani. Kaum Muslimin pun akhirnya memberikan perhatian kepadanya. Itu terjadi pada tahun 1877-1878 M.

Pada gilirannya, ia mengumumkan telah memulai proyek penulisan buku sebanyak lima puluh jilid, berisi bantahan terhadap lontaran-lontaran syubhat yang dilontarkan oleh kaum kuffar terhadap Islam. Oleh karena itu, ia mengharapkan kaum Muslimin mendukung proyek ini secara material. Sebagian besar kaum Muslimin pun tertipu dengan pernyataannya yang palsu, bahwa ia akan mencetak kitab yang berjumlah lima puluh jilid.

Sejak itu pula, ia menceritakan beberapa karomah (hal-hal luar biasa) dan kusyufat tipuan yang ia alami. Dengan demikian, orang awam menilainya sebagai wali Allah, tidak hanya sebagai orang yang berilmu. Orang-orang pun bersegera mengirimkan uang-uang mereka yang begitu besar kepadanya guna mencetak kitab yang dimaksud [Majmu’ah I’lanat Ghulam Al-Qadiyani, 1/25].

Volume pertama buku yang ia janjikan terbit tahun 1880 M, dengan judul Barahin Ahmadiyah. Buku ini sarat dengan propaganda dan penonjolan karakter penulisnya, cerita tentang alam gaib yang berhasil ia ketahui, juga berisi karomah dan kusyufatnya.

Dicomot dari tulisan yang sama dari Harian KOMPAS
http://oase.kompas.com/read/2011/02/14/12050819/Ahmadiyah.Islam.atau.Bukan

Selasa, 25 Januari 2011

Sejarah Istilah Sunda

Penggunaan istilah Sunda saat ini sulit dibedakan dengan istilah Jawa Barat, sering dicampur adukan, padahal secara histori memiliki sejarah yang berbeda. Kedua istilah tersebut mengalami perubahan pengertian dan penafsiran, sehingga sering terjadi kekeliruan dan keragu-raguan dalam penggunaannya, terutama ketika istilah Sunda hanya dikonotasikan politis, dianggap sukuisme, sehingga terpaksa istilah Sunda dalam perkumbuhan sosial dan budaya harus diganti dengan sebutan Jawa Barat.


Istilah Sunda dalam catatan masa lalu diterapkan untuk menyebutkan suatu kawasan (Sunda besar dan Sunda kecil), sedangkan di dalam prasasti dan naskah sejarah digunakan untuk menyebutkan batas budaya dan kerajaan di pulau Jawa bagian barat (Jawa Kulwon), bukan hanya terbatas didalam yuridiksi penerintahan Jawa Barat saat ini, didalam Catatan Bujangga Manik disebut “Tungtung Sunda”.




Dataran- Kepulauan Sunda


Bagi masyarakat yang mengenyam pendidikan pada medio 1960 an, istilah Sunda masih ditemukan didalam mata ajar Ilmu Bumi, suatu istilah yang menunjukan gugusan kepulauan yang disebut Sunda Besar dan Sunda Kecil.


Sunda Besar adalah himpunan pulau yang berukuran besar, terdiri atas pulau Sumatera, Jawa, Madura, dan Kalimantan. Sedangkan Sunda Kecil adalah daerah yang terletak disebelah timur Pulau Jawa, sejak dari Bali disebelah barat hingga Pulau Timor di sebelah timur meliputi pulau-pulau Lombok, Flores, Sumbawa, Sumba, Roti dan lain-lain (Ekadjati – 1995).


Menurut R.W. van Bemmelen (1949), Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistim Gunung Sunda yang melingkar (circum Sunda Mountain System) yang panjangnya sekitar 7.000 km.


Pendapat diatas tentunya mendekati paradigma masyarakat dunia maya saat ini yang sedang mencari jejak Benua Antlantis, seperti Stephen Oppenheimer, seorang Profesor dari Universitas Oxford dan Arysio Santios, Profesor dari Brazil. Konon berdasarkan penemuan para ahli Amerika dan Jepang, yang mengacu pada ciri ciri kehidupan dan genetika manusianya, benua tersebut berada diwilayah yang saat ini disebut dataran Sunda. Persoalannya sekarang, mampukah kita menemukan jawaban atas pencarian tersebut, atau hanya ‘bakutet’ seperti “monyet ngagugulung kalapa ?”. Jika dikelak kemudian hari pertanyaan tersebut terjawabkan, tentunya akan mampu merubah peta kesejarahan dunia.


Didalam pelajaran Ilmu Bumi, dataran Sunda terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian utara yang meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang lautan Pasifik bagian barat serta bagian selatan yang terbentang dari timur ke barat muali Maluku bagian selatan hingga lembah Brahmaputra di Assam (India). Dengan demikian bagian selatan dataran Sunda dibentuk oleh kawasan mulai Pulau Banda di timur terus kearah barat melalui pulau-pula di Kepulauan Sunda Kecil (The Lesser Sunda Islands), Jawa, Sumatera, Kepulauan Andaman, dan Nikobar sampai ke Arakan Yoma di Birma.


Didalam Prasasti dan Naskah Kuna


Di bidang sejarah menurut Ekadjati (hal.2) : istilah Sunda yang menunjukan pengertian wilayah di bagian barat Pulau Jawa dengan segala akitivitas kehidupan manusia didalamnya, muncul untuk pertama kalinya pada abad ke-9 Masehi. Istilah tersebut tercatat dalam prasasti yang ditemukan di Kebon Kopi, Bogor beraksara Jawa Kuna dan berbahasa Melayu Kuna. Bahwa terjadi peristiwa untuk mengembalikan kekuasaan prahajian Sunda pada tahun 854 Masehi. Pada waktu itu sudah diketahui adanya suatu wilayah yang memiliki penguasa yang diberi nama Prahajian Sunda. Ada juga yang menyebutkan istilah ini telah dimuat dalam Prasasti Kabantenan. Prasasti tersebut menjelaskan tentang suatu daerah yang disebut Sundasembawa.


Data lain yang menyebutkan tentang istilah Sunda ditemukan pula, dengan penjelasan: “pemerintahan Suryawarman meninggalkan sebuah prasasti batu yang ditemjukan di kampung Pasir Muara (Cibungbulang) di tepi sawah kira-kira 1 kilometer dari prasasti telapak gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti ini berisi inskripsi sebanyak 4 baris. Bacaannya (menurut Bosch) ;


ini sabdakalanda juru pangambat i kawihaji panyca pasagi marsandeca barpulihkan haji su – nda. (Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pangambat dalam [tahun Saka] 458 [bahwa] pemerintahan daerah dipulihkan kepada raja Sunda”. (RPMSJB, Buku kedua, hal 24).


Suryawarman di dalam sejarah tatar Pasundan tercatat sebagai raja Tarumanagara ketujuh yang memerintah pada tahun 457 sampai dengan tahun 483 Saka bertepatan dengan tahun 536 sampai dengan tahun 561 masehi, sedangkan tahun 458 Saka bertepatan dengan 536 masehi atau abad ke enam masehi.


Sampai saat ini tidak kurang dari 20 buah jumlah prasasti yang ditemukan di wilayah Jawa Barat sekarang. Menurut waktunya dapat dikelompokan menjadi (1) prasasti Tarumanagara (2) Sunda (3) Rumantak (4) Kawali (5) Pakuan Pajajaran. Sedangkan nama-nama raja yang terulis dalam prasasti tersebut, adalah (1) Rajadiraja Guru (2) Purnawarman (3) Haji (raja) Sunda (4) Sri Jayabupati (5) Batari Hyang (6) Prabu Raja Wastu – Niskala Wastu Kencana (7) Ningrat Kencana (Dewa Niskala) dan (cool Prabu Guru Dewataprana (Sri Baduga Maharaja).


Kisah yang dimaksudkan Ekadjati tersebut sama dengan yang dimaksud Pleyte (1914), kisah berdirinya kerajaan Sunda terdapat dalam naskah Kuna dan berbahasa Sunda Kuna. Pendiri dari kerajaan Sunda adalah Terusbawa. Sedangkan eksistensinya ditemukan dalam naskah Nagarakretabhumi (sumber sekunder), yang menjelaskan Terusbawa memerintah pada tahun 591 sampai dengan 645 Saka, bertepatan dengan tahun 669/670 sampai dengan 723/724 Masehi. Sedangkan di dalam Pustaka Jawadwipa I sarga 3 mengisahkan, bahwa :


“Telas karuhun wus hana ngaran deca Sunda tathapi ri sawaka ning rajya Taruma. Tekwan ring usana kangken ngaran kitha Sundapura. Iti ngaran purwaprastawa saking Bharatanagari”. (Sesungguhnya dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama (kota) Sundapura. Nama ini berasal dari negeri India) [Ibid].


Generasi muda sekarang lebih memahami batas sunda bagian timur adalah Cirebon. Penafsiran demikian tidak dapat disalahkan, mengingat pada masa Belanda yuridiksi Propinsi Jawa Barat dibatasi hanya smapai Cirebon. Ekadjati dalam tulisannya tentang Sajarah Sunda mengemukakan, bahwa :


... Tanah Sunda perenahna di beulah kulon hiji pulo anu ayeuna jenenganana Pulo Jawa. Ku kituna eta wewengkon disebut oge Jawa Kulon. Ceuk urang Walanda mah West Java. Sacara formal istilah West Java digunakeun ti mimiti taun 1925, nalika pamarentah kolonial ngadegkeun pamarentah daerah anu statusna otonom sarta make ngaran Provincie West Java. Ti mimiti zaman Republik Indonesia (1945) eta ngaran propinsi anu make basa Walanda teh diganti ku basa Indonesia jadi Propinsi Jawa Barat’.


Wilayah Tarumanagara pada masa Purnawarman membawahi 46 kerajaan daerah. Jika dibentangkan dalam peta daerah tersebut meliputi jawa bagian barat (Banten hingga Kali Serayu dan Kali Brebes Jawa Tengah). Paska pemisahan Galuh secara praktis kerajaan Sunda terbagi dua, sebelah barat Sungai Citarum dikuasai Sunda (Terusbawa) dan sebelah Sungai Citarum bagian timur dikuasai Galuh (Wretikandayun). Penyatuan kembali Sunda dengan Galuh dimasa lalu terjadi beberapa kali, seperti pada masa Sanjaya, Manarah, Niskala Wastu Kancana dan Sri Baduga Maharaja.


Untuk menyelusuri batas budaya, ada beberapa versi yang dapat diacu : Pertama, berdasarkan Naskah Bujangga Manik, yang mencatatkan perjalanannya pada abad ke-16, mengunjungi tempat-tempat suci di Pulau Jawa dan Bali, naskah tersebut diakui sebagai naskah primer, saat ini disimpan di Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (kali Brebes) dan sungai Ciserayu (Kali Serayu) Jawa Tengah. Dalam catatan Bujangga Manik disebutkan dengan isitilah Tungtung Sunda, bahkan menurut Wangsakerta, : wilayah kerajaan Sunda mencakup beberapa daerah Lampung. Hal ini terjadi pasca pernikahan antara keluarga kerajaan Sunda dan Lampung. Hanya saja Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda. Disisi lainnya. Sunda memang tidak membentuk kerajaannya sebagai kerajaan Maritim.


Kedua, menurut Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, yang kemudian dibukukan dalam suatu judul Summa Oriental, menyebutkan batas wilayah kerajaan Sunda : ada juga yang menegaskan, kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa kerajaan Sunda mencakup sepertiga pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Keliling pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Cimanuk


Kerajaan Sunda


Di dalam buku Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat (RPMSJB), uraian tentang kerajaan sunda nampaknya dibatasi sejak Maharaja Terusbawa sampai dengan Citraganda, atau sejak tahun 669 M sampai dengan tahun 1311 M. Hal ini dapat dipahami mengingat pembahasan kerajaan-kerajaan yang ada di tatar Sunda diuraikan tersendiri, seperti Sunda, Galuh, Kawali dan Pajajaran.


Pembahasan kesejarahan ini jauh lebih luas dibandingkan dengan paradigma masyarakat tradisional yang selalu mengaitkan Sunda dengan simbol-simbol Pajajaran, atau kerajaan Sunda terakhir. Jika budaya Sunda hanya dipahami hanya sebatas Pajajaran, dengan satu-satunya raja yang terkenal, yakni Prabu Silihwangi, maka masyarakat di tatar Sunda akan berpotensi untuk makin kehilangan jejak kesejarahannya. Masalahnya adalah, mampukah masyarakat Sunda merubah paradigmanya untuk melemparkan kemasa yang lebih jauh kebelakang melebihi jejak Pajajaran dan Siliwanginya ?.


Sebutan Sunda untuk nama kerajaan di Tatar Sunda yang mengambil dari garis keturunan Terusbawa agak kurang tepat jika dikaitkan dengan kesejarahan Sunda yang sebenarnya. Istilah Sunda sudah dikenal sebelum digunakan oleh Terusbawa, bahkan prasasti Pasir Muara yang menunjukan tahun 458 Saka (536 M) telah menyebutkan adanya raja Sunda. Secara logika sangat wajar jika ditafsirkan bahwa istilah Sunda sudah digunakan sebelum tahun tersebut, karena prasasti dimaksud tentunya tidak dibuat langsung bertepatan dengan istilah Sunda ditemukan. Dan prasasti tersebut tidak menandakan dimulainya entitas Sunda, namun hanya menerangkan, bahwa memang telah ada penguasa Sunda yang berkuasa pada waktu itu.


Istilah Tarumanagara dimungkinkan diterapkan untuk nama kerajaan Sunda yang berada di tepi kali Citarum. Menurut beberapa versi, istilah Sunda digunakan ketika Ibukota Tarumanagara dipindahkan ke wilayah Bogor. Jika saja ada kaitannya antara Tarumanagara dengan Salakanagara, kemungkinan besar istilah Sunda juga sudah digunakan untuk nama kerajaan daerah atau jejak budaya manusia yang ada di dataran Sunda.


Instilah Sunda (Sundapura) sebelumnya pernah digunakan oleh Purnawarman sebagai pusat pemerintahan. Tarumanagara berakhir pasca wafatnya Linggawarman (669 M). Terusbawa adalah menantu Linggawarman menikah dengan Dewi Manasih, putrinya. Tarusbawa dinobatkan dengan nama Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manunggalajaya Sundasembawa. Dari sinilah para penulis sejarah Sunda pada umumnya mencatat dimulainya penggunaan nama kerajaan Sunda. (***)




Sumber Bacaan :

Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah) - Jilid 1, Edi S. Ekadjati, Pustaka Jaya – Bandung, Cetakan Kedua – 2005.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

Eden In The East (Surga di Timur), Stephen Oppenheimer, PT. Ufuk Publihishing House, Jakarta 2010

Atlantis The Lost Continent Finally Found, Aryo Santos, PT. Ufuk Publihishing House, Jakarta 2010

http://akibalangantrang.blogspot.com/2010/04/pengantar.html

dicopy-paste-keun ti:
http://www.kalangsunda.net/apps/forums/topics/show/4115336-sejarah-istilah-sunda?page=last

Rabu, 22 Desember 2010

Wisuda

tawa canda selalu mewarnai, ada yang murung karena gebetan di kelas keburu disamber orang, ada yang seneng karena berhasil jadian ma temen sekelas, dan berbagai cerita telah terpatri dalam sanubari geng k3233 hmmm.... WISUDA! adalah kata yang seolah berarti selamat tinggal atau perpisahan, padahal .... hmmm.... apa ya.... any way ada beberapa cukilan dari status fb temen-temen saat wisuda....
well selamat dan sukses buat semua temen-temen

salam erat
kang oda


cukilan dari status beberapa temen


Wijdani Rifqie Zulfahmi:
Makasih banyak yh neng'ieycHa' AriaNisa,, yang ga pernah lelah dan sllu ada disaat dibutuhkan.. makasih bnyk yh syg.!! bakal kangen ma Tante MLa Agst,,, keplinya Lutfi 'Da CunHa' ,, guyonan Asteve Husni Jr ,,,senyumnya mamih RoSy Haryadi ,,crtanya Kang Oda Surawijaya ,,gordesnya Nuy Suranuy ,,, dan semua temen2 yang ga bsa disebutin satu2.. makasih banyk yh..

Asteve Husni Jr:
waktu terasa terus berlalu tiba saatnya kita tukberpisah,jangan lupakan masa masa kita tertawa bersama pokoknamah sadih lah gud luck for all my friends

Wahyu Penyu
Hari yang bersejarah, setelah berjuang selama 3 tahun.

Nta M Rifa'i
yang terbaik ku persembahkan teruntuk ibu,bapa,kluarga,calon suamiku,dan semua sahabat2 ku...thank n i luv u all...^_^

Yuli Artamevia
susah untuk diungkapakan jika hari ini Q bahagia

Ncie Sri EnHa
AlhamduliLLah..

Yunny Juney
Alhamdulillah hr ini lncr smuany. Trima ksh y Allah...

Meylan Yan
Persiapan Menuju Puncak...., setelah sekian lama, kini harus berakhir sudah, thank's for all my friends.....................^-^....:)

Khalida Nisa
alhamdulillah berez wisudany,,mandi dlu ah,istirahat,trz siap2 inagurasi,,ajak sepupu2 ak naik mobil my luphly haha,,come on.

Rose Padahal Eros
aq sudah lulus...yeah...!

Aldi Restuadi
Ga percuma perjuangan selama ini, ketika org lain dihari minggu banyak yg bersantai2 dirmh sy tetep kuliah, ketika org lain lg libur semester sy tetep kuliah, ketika org lain sedang malam mingguan ma pasangannya sy tetep kuliah tapi akhirnya tgl 22-12-10 gelar sarjana bisa jg dicapai. Alhamdulillah, Terima kasih kepada semua org yg selalu mensupport & membantu sy.

BRAVO AKE K3233
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1356400662853&set=o.59183514955#!/group.php?gid=59183514955

Kamis, 28 Oktober 2010

Kakawihan Barudak Sunda

Aya nu apal keneh teu nya, kana kakawihan barudak baheula? sigana mah moal da ari kakawihan nu kalarieu mah geus teu di parake deui ku barudak ayeuna mah, asa mangleubarkeun weh kami mah dan ari kabudayaan sunda teh geuningan sakitu aheng na, cag urang emut-emut deui kakawihanana, bral urang di alajar deui barudak...

Ambil-ambilan

+ Ambil ambilan turugtug hayam samantu
- Saha nu diambil kami mah teu boga incu
- boga gé anak pahatu
+ Pahatu-pahatu gé daék
+ purah nutu purah ngéjo
+ purah ngasakan baligo
- Nyerieun sukuna kacugak ku kaliagé
+ Aya ubarna kulit munding campur dagé
+ tiguling nyocolan dagé

Jaleuleuja

Jaleuleuja
Atulak tu ja éman
gog
Seureuh leuweung
bay
Jambé kolot
bug
Ucing katinggang songsong
ngék

Dongdang mayang

Pamikul adeg-adeg Bujang lanjang ti kidul sing araced

Truk truk brung

Truk truk brung Truk tru brak Buntut lutung panjang rubak Dikenyang-kenyang barudak Barudak

salawé widak Nyèd eng – nyed eng Nyed nyed eng Nyed- nyed eng

IV.

Ningningnang-ningnang Dot em dot blem Dalem sumping dor bajidor Tutunjuk kembang malati

Laole ole obong …………………………………………. (hilap deui)

Adu riri silih pinyong ( ?) Inyong-inyong mas muria Adu gandék raja belang

V.

Néngnang néng prak Térélék embé janggotan Pa kuwu kariaan Laukna lauk bilatung Kéjona kéjo

gandrung Trangtrung bedog buntung Trungtrang bedog rompang Hét hét embé janggotan Kélék

monyét héhéotan Badubanglpak dug blem

VI.

Pacublek-cublek uang Uangnya manggulenténg Butata – butiti Padati wara – wiri Tangsi nona

Tangsi tuan Ka teluk bungbung Pok érah Pok érah Si Sidin mau kawin Potong kerbau péndék

Potong kerbau tinggi Tingginya jemblang – jemblung Ta eem Ta eem Ta em – ta em – ta em

VII.

Sakentrung – sakentrung Paré hawara di huma Ditutuna lisung kai (pondok ?) Trung dung trung

dung éng Trung dung trung dung éng

VIII.

Sakentrung taligung Pécik pécang Tété tulak Tété wondo Dalem surak raja sono Kalisanga

domblé Kacang diraraweuy Tembus kénéh Dodol sana Dodol sini Cir kuciplek Doli doéng

IX.

+ Endeuk-eundeukan lagoni - Meunang peucang sahiji + Leupas deui ku nini - Beunang deui ku

aki + Leupas deui ku ninina nini nini - Beunang deui ku akina aki-aki + Leupas deui ku

ninina ninina ninina nini nini - Beunang deui ku akina akina akina akina aki-aki + Leupas

deui ku ninina ninina ninina ninina ninina ninina nini nini………… - Beunang deui ku akina

akina akina akina akina akina akina akina aki-aki ……..



X.

Pérépét jéngkol jajahéan Kadempét kohkol Jéjérétéan

XI.

Ehon bérod Ehon bérod Ehon bérod Roda sapi buntung Tunggir hayam bikang Kangkung sisi gawir

Wira dagang oncom Comél ka nu gélo Lodong kosong ngentrung Trung trung trung kohkol alarm

XII

Santri maan dodol Doléwak nincak waduk Duka waduk saha Haneut kénéh pisan (balik deui kana

santri maan dodol ………… Kitu jeung kitu waé bulak balik)

XIII

Bubulaoan Si semar maling gunting Guntingna kabulaoan Ta eem te eem Sidakep bari balem
XIV

Ojok – ojok uang aung
Ngarorojok nu disaung
Ojok-ojok undar andur
Ngarojok nu keur tandur
Ojok-ojok umbet-ambét
Ngarojok nu ngarambét
Ojok-ojok uat-aut
Ngarojok nu dibuat
Ojok – ojok ata utu
Ngarorojok nu keur nutu
Ojok-ojok unggang anggéng
Ngarojok nu keur nonggéng
Ojok-ojok ucad aced
Ngorojok nu aced-acedan

XV

Oray-orayan
Oray naon
Oray bungka
Bungka naon
Bungkalaut
Laut naon
Laut dipa
Dipa naon
Dipandeuri ………..

XVI.

+ Oray-orayan luar léor mapay sawah
- Entong ka sawah paréna keur sedeng beukah
+ Mending ka leuwi di leuwi loba nu mandi
- Saha anu mandi – anu mandina pandeuri

XVII.

Bubur beureum
Sabrang wétan
Kurawed angked
Blep

XVIII.

Si roji meuli paku
Ku babah teu dibéré
Pokna mata sia
Dai nippon nu kawasa

XIX.

Cingcangkeling manuk cingkleung // Cindeten // Blos ka kolong bapa satar buleneng

Ayang-ayang Gung

Ayang-ayang gung
Gung goongna ramé
Ménak Ki Mas Tanu
Nu jadi wadana
Naha manéh kitu
Tukang olo-olo
Loba anu giruk
Ruket jeung Kumpeni
Niat jadi pangkat
Katon kagoréngan
Ngantos Kangjeng Dalem
Lempa lempi lempong
Ngadu pipi jeung nu ompong
Jalan ka Batawi ngemplong

XXI.

Disurung ungkug-ungkugan
Diséréd jéjérétéan
Bulu irung digelungan
Bulu kélék dilélépét

Bang kalima lima gobang

Bang kalima lima gobang (bang)
Bangkong di tengah sawah (wah)
Wahéy tukang bajigur (gur)
Guru sakola désa (sa)
Saban poé ngajar (jar)
Jarum paranti ngaput (put)
Putri nu gareulis (lis)
Lisung kadua halu (lu)
Luhur kapal udara (ra)
Ragrag di Jakarta (ta)
Taun tujuh hiji (ji)
Haji rék ka Mekkah (kah)
Kahar tujuh rébu (bu)
Buah meunang ngala (la)
Lauk meunang nyobék (bék)
Béker meunang muter (ter)
Terus ka Cikampék (pék)
Pékna dagang kalam (lam)
Lampu eujeung damar (mar)
Mari kuéh hoho (ho)
Hotél panglédangan (ngan)
Ngantos Kangjeng Dalem (lem)
Lempa lempi lempong
Ngadu pipi jeung nu ompong

XXIII

Kalongking // Kalongking // Bapa sia // Utah ngising // Cecewok dina pependil

XXIV

Sasalimpetan
Jajahan aing nu panjang

Sursér-sursér

Sursér sursér
Amis cau
Amis kembang
Hileud sita
Tarungambang
Yéy iyéy
Tai manukan
Yéy iyéy
Tai manukan

XXVI

Prang pring, prang pring
salumprang salampring
Sabulu bulu gading
si gading ka Sunda perang
pur kuntul engkang-engkang
munding ngabongkar kandang
salewek sadugel cindel
heug, heug caringin runtuh
heug, heug caringin runtuh
dorokdok gubrag
+pung puyuh/
angèl angèl pèrah jambè/
torolong hayam kakolong
suku si jaèni
nilep sabeulah.............(upami teu lepat mah kitu)

Cang ucang anggé

Cang ucang anggé
Mulung muncang ka paranjé
Digogog ku anjing gedé
Anjing gedé nu Pa Lebé
Ari gog gog cungunguuuung

Héhéotan

Héh héh héhéotan
Bulu kélék jambréosan
Nini-nini dagang ketan
Teu payu dicarékan

dicomot ti sababaraha sumber di internet jeung nu pasti na teu menta ijin heula, bilih bade ngiring nyomot oge sok lah mangga haratis

Selasa, 12 Oktober 2010

Wangsit Siliwangi

Uga Wangsit Siliwangi
From Wikisource

"untuk bahasa Indonesia (terjemahan bebas) ada di bagian bawah setelah tulisan berbahasa Sunda selesai"


Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!

UGA WANGSIT SILIWANGI

Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang: Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.

Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!

Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!

Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!

Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!

Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.

Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.

Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.

Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!

Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.

Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.

Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.

Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan............................. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.

Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!

Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.

Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!

Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!

-----------------------terjemahan bebas---------------------------

Uga Wangsit Siliwangi


Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang :
“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”

Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!

Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!

Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!

Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah!

Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara.

Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.

Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.

Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!

Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.

Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.

Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.

Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah. Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.

Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.

Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.
Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.

Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!

Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.

Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.

Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!

Rabu, 06 Oktober 2010

Kidung Sunda

Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali. Dalam kidung ini dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian beliau menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tak memiliki nama. Namun patih Gajah Mada tidak suka karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada orang Majapahit (baca orang Jawa). Kemudian terjadi perang besar-besaran di Bubat, pelabuhan tempat berlabuhnya rombongan Sunda. Dalam peristiwa ini rombongan Kerajaan Sunda dibantai dan putri Sunda yang merasa pilu akhirnya bunuh diri.

Versi kidung Sunda
Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr. C.C. Berg, menemukan beberapa versi KS. Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya:

Kidung Sunda
Kidung Sundâyana (Perjalanan (orang) Sunda)
Kidung Sunda yang pertama disebut di atas, lebih panjang daripada Kidung Sundâyana dan mutu kesusastraannya lebih tinggi dan versi iniliah yang dibahas dalam artikel ini.

Ringkasan
Perhatian: Bagian di bawah ini mungkin akan membeberkan isi cerita yang penting atau akhir kisahnya.
Di bawah ini disajikan ringkasan dari Kidung Sunda. Ringkasan dibagi per pupuh.

Pupuh I
Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.

Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.

Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.

Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.


Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)

Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong seorang raja berstatus raja vazal seperti Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.

Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.

Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.

Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.

Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.

Pupuh II (Durma)
Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan perang tidak dapat dihindarkan.

Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.

Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.

Pupuh III (Sinom)
Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.

Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.

Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).

Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.

Analisis
Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat, meski kemungkinan besar tentunya bisa berdasarkan kejadian faktual.

Secara garis besar bisa dikatakan bahwa cerita yang dikisahkan di sini, gaya bahasanya lugas dan lancar. Tidak berbelit-belit seperti karya sastra sejenis. Kisahnya memadukan unsur-unsur romantis dan dramatis yang memikat. Dengan penggunaan gaya bahasa yang hidup, para protagonis cerita ini bisa hidup. Misalkan adegan orang-orang Sunda yang memaki-maki patih Gajah Mada bisa dilukiskan secara hidup, meski kasar. Lalu Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda bisa dilukiskan secara indah yang membuat para pembaca terharu.

Kemudian cerita yang dikisahkan dalam Kidung Sunda juga bisa dikatakan logis dan masuk akal. Semuanya bisa saja terjadi, kecuali mungkin moksanya patih Gajah Mada. Hal ini juga bertentangan dengan sumber-sumber lainnya, seperti kakawin Nagarakretagama, lihat pula bawah ini.

Perlu dikemukakan bahwa sang penulis cerita ini lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan, seringkali bertentangan dengan sumber-sumber lainnya. Seperti tentang wafat prabu Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, penulisannya berbeda dengan kakawin Nagarakretagama.

Kemudian ada sebuah hal yang menarik, nampaknya dalam kidung Sunda, nama raja, ratu dan putri Sunda tidak disebut. Putri Sunda dalam sumber lain sering disebut bernamakan Dyah Pitaloka.

Satu hal yang menarik lagi ialah bahwa dalam teks dibedakan pengertian antara Nusantara dan tanah Sunda. Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara, kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang, orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?), Wandan (Banda, Maluku Tengah), Tanjungpura (Kabupaten Ketapang) dan Sawakung (Pulau Sebuku?) (contoh bait 1. 54 b.) . Hal ini juga sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit di mana mereka harus membayar upeti. Tapi di Nagarakretagama, Madura juga tak disebut.

Penulisan
Semua naskah kidung Sunda yang dibicarakan di artikel ini, berasal dari Bali. Tetapi tidak jelas apakah teks ini ditulis di Jawa atau di Bali.

Kemudian nama penulis tidaklah diketahui pula. Masa penulisan juga tidak diketahui dengan pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, tetapi ini tidak bisa digunakan untuk menetapkan usia teks. Sebab orang Indonesia sudah mengenal senjata api minimal sejak datangnya bangsa Portugis di Nusantara, yaitu pada tahun 1511. Kemungkinan besar orang Indonesia sudah mengenalnya lebih awal, dari bangsa Tionghoa. Sebab sewaktu orang Portugis mendarat di Maluku, mereka disambut dengan tembakan kehormatan.

Beberapa cuplikan teks
Di bawah ini disajikan beberapa cuplikan teks dalam bahasa Jawa dengan alihbahasa dalam bahasa Indonesia. Teks diambil dari edisi C.C. Berg (1927) dan ejaan disesuaikan.


Gajah Mada yang dimaki-maki oleh utusan Sunda (bait 1. 66b – 1. 68 a.)
Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.
Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.
Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.
Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.

Alihbahasa:

“Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami? Kita ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti? Sama seperti dari Nusantara. Kita lain, kita orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.
Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan. Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang. Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur.
Kedua mantrimu yang bernama Lěs dan Beleteng diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri. Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup.
Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti tahi anjing. Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!”

Raja Sunda yang menolak syarat-syarat Majapahit (bait 2.69 – 2.71)
[...], yan kitâwĕdîng pati, lah age marĕka, i jĕng sri naranata, aturana jiwa bakti, wangining sĕmbah, sira sang nataputri.
Wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing ati, ah kita potusan, warahĕn tuhanira, nora ngong marĕka malih, angatĕrana, iki sang rajaputri.
Mong kari sasisih bahune wong Sunda, rĕmpak kang kanan keri, norengsun ahulap, rinĕbateng paprangan, srĕngĕn si rakryan apatih, kaya siniwak, karnasula angapi.

Alihbahasa:

[...], jika engkau takut mati, datanglah segera menghadap Sri Baginda (Hayam Wuruk) dan haturkan bukti kesetianmu, keharuman sembahmu dengan menghaturkan beliau sang Tuan Putri.
Maka ini terdengar oleh Sri Raja dan beliau menjadi murka: “Wahai kalian para duta! Laporkan kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi menghantarkan Tuan Putri!”
“Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, atau hancur sebelah kanan dan kiri, tiada akan ‘silau’ beta!”. Sang Tuan Patih juga marah, seakan-akan robek telinganya mendengarkan (kata-kata pedas orang Majapahit).

Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda yang telah tewas (bait 3.29 – 3. 33)
Sireñanira tinañan, unggwani sang rajaputri, tinuduhakěn aneng made sira wontěn aguling, mara sri narapati, katěmu sira akukub, perěmas natar ijo, ingungkabakěn tumuli, kagyat sang nata dadi atěmah laywan.
Wěněsning muka angraras, netra duměling sadidik, kang lati angrawit katon, kengisning waja amanis, anrang rumning srigading, kadi anapa pukulun, ngke pangeran marěka, tinghal kamanda punyaningsun pukulun, mangke prapta angajawa.
Sang tan sah aneng swacita, ning rama rena inisti, marmaning parěng prapta kongang mangkw atěmah kayêki, yan si prapta kang wingi, bangiwen pangeraningsun, pilih kari agěsang, kawula mangke pinanggih, lah palalun, pangdaning Widy angawasa.
Palar-palarěn ing jěmah, pangeran sida kapanggih, asisihan eng paturon, tan kalangan ing duskrěti, sida kâptining rawit, mwang rena kalih katuju, lwir mangkana panapanira sang uwus alalis, sang sinambrama lěnglěng amrati cita.
Sangsaya lara kagagat, pětěng rasanikang ati, kapati sira sang katong, kang tangis mangkin gumirih, lwir guruh ing katrini, matag paněděng ing santun, awor swaraning kumbang, tangising wong lanang istri, arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar.
Alihbahasa:

Maka ditanyalah dayang-dayang di manakah gerangan tempat Tuan Putri. Diberilah tahu berada di tengah ia, tidur. Maka datanglah Sri Baginda, dan melihatnya tertutup kain berwarna hijau keemasan di atas tanah. Setelah dibuka, terkejutlah sang Prabu karena sudah menjadi mayat.
Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka, bibirnya indah dilihat, gigi-giginya yang tak tertutup terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading. Seakan-akan ia menyapa: “Sri Paduka, datanglah ke mari. Lihatlah kekasihnda (?), berbakti, Sri Baginda, datang ke tanah Jawa.
Yang senantiasa berada di pikiran ayah dan ibu, yang sangat mendambakannya, itulah alasannya mereka ikut datang. Sekarang jadinya malah seperti ini. Jika datang kemarin dulu, wahai Rajaku, mungkin masih hidup dan sekarang dinikahkan. Aduh sungguh kejamlah kuasa Tuhan!
Mari kita harap wahai Raja, supaya berhasil menikah, berdampingan di atas ranjang tanpa dihalang-halangi niat buruk. Berhasillah kemauan bapak dan ibu, keduanya.” Seakan-akan begitulah ia yang telah tewas menyapanya. Sedangkan yang disapa menjadi bingung dan merana.
Semakin lama semakin sakit rasa penderitaannya. Hatinya terasa gelap, beliau sang Raja semakin merana. Tangisnya semakin keras, bagaikan guruh di bulan Ketiga*, yang membuka kelopak bunga untuk mekar, bercampur dengan suara kumbang. Begitulah tangis para pria dan wanita, rambut-rambut yang lepas terurai bagaikan kabut.
*Bulan Ketiga kurang lebih jatuh pada bulan September, yang masih merupakan musim kemarau. Jadi suara guruh pada bulan ini merupakan suatu hal yang tidak lazim.

source: http://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda

Selasa, 05 Oktober 2010

Adat Ngariksa nu Kakandungan

Adat ngariksa nu kakandungan di Sunda teh raket pisan patalina jeung sistim kapercayaan urang Sunda, anu boga sipat – ceuk Muhtar Lubis dina Manusia Indonesia mah – percaya kana tahayul/bangsa lelembut. Maksud dina ayana adat ngaraksa nu reuneuh teh nya eta pikeun ngajaga nu reuneuh dina pangaruh jahat para lelembut atawa dedemit sarta pangaruh goreng tina kakuatan alam disabudeureunana nu miboga sipat gaib. Tarekah pikeun ngajaga eta dilakukeun ku rupa-rupa cara saperti:

ngayakeun salametan atawa sidekah mekelan nu reuneuh ku barang-barang anu diyakinan miboga kakuatan tolak bala atawa salaku jimat merhatikeun tur ngajaga supaya nu reuneuh teu ngalanggar pantrangan karuhun.
Pikeun nu mimiti pisan mah biasana kolotna nu sok merhatikeun teh, beda jeung nu geus dua atawa tilu kali biasana ku sorangan. Ieu hal dumasar pangalaman, biasana ari anu kakara pisan kakandungan mah sok loba kasieun, komo kolotna mah, hariwangeun pisan ningali budakna anu léléngkah halu kénéh dina hal ngariksa janin.

Ti mimiti reuneuh nepi ka kandungan umurna dua bulan biasa disebut ngandeg atawa nyiram. Sanggeus umur kandungan tilu bulan diayakeun salametan tilu bulanan. Pikeun rereana jalma salametan tilu bulanana cukup ku ngabubur beureum ngabubur bodas nu mangrupa inti atawa sarat nu kudu aya dina salametan numutkeun adat kabiasaan karuhun. Salian ti ngabubur beureum ngabubur bodas teh, pikeun jalma boga mah biasana sok dibarengan ku tumpeng.

Sarengsena salametan tilu bulanana diayakeun deui salametan dina mangsa umur kandungan 5, 7, 9 bulan. Pokona kudu ngayakeun tiap itungan ganjil. Dina salametan kadua kalina diayakeun hajat bangsal. Bangsal anu diwadahan ku bokor sarta di luhurna ditutupan ku daun waluh. Maksud dina kecap bangsal sacara metonomis mirip kecap bengsal (sial). Sedengkeun kecap waluh sacara metonomis ngaharib-harib kana kecap waluya. Jadi maksud utama ayana hajat bangsal teh nya eta ngaleungitkeun sagala kasialan sarta diganti ku kawaluyaan.

Salametan anu katilu kalina diayakeun dina waktu kandungan geus 7 bulan nu mangrupa salametan panggedena diantara 4 salametan. Salametan ieu pada nyarebut tingkeban atawa babarik (Ciamis), babarit (Majalengka). Saprak tingkeban urusan ngajaga nu reuneuh jadi tanggungjawab paraji. Tingkeban teh mangrupa salametan nu kakandungan nu pangceuyahna diantara upacara-upacara sejenna, ditilik tina lobana proses upacara jeung reana sarat anu kudu dicumponan. Waktu umur kandungan 9 bulan diayakeun salametan anu kaopat kalina. Ieu salametan teh disebut lolos jeung sidekah lampu. Lolos (dahareun nu dijieun tina tipung beas digulaan make santen tur dibungkus ku daun cau) nyaeta ngandung maksud supaya dina waktu ngalahirkeun, orok bisa kaluar kalayan lancar jeung salamet, sedengkeun lampu miboga maksud supaya orok nu dilahirkeun miboga hate nu caang. Lampu nu dipake biasana lampu cempor atawa lampu tempel.

Paraji mimiti mere pituduh ka kulawarga nu kakandungan pikeun tatahar nyiapkeun rupa-rupa ramuan nu mangrupa sisikian, akar-akaran, dadaunan, jeung beubeutian nu tangtu. Biasana umur kandungan salapan bulan teh sok disebut bulan alaeun. Beda deui mun umur kandungan teu normal (leuwih ti salapan bulan biasana sok pada nyebut reuneuh mundingeun).

Aya istilah husus pikeun nu kakandungan dina prosesna.

Reuneuh sabulan disebut ngaherang, hartina kandungan masih kaciri herang sarta wujudna disebut alkah.
Reuneuh dua bulan disebut lumenggang, hartina geus kentel sanajan transparan keneh (ngalangkang) sarta wujudna disebut kasapah.
Reuneuh tilu bulan disebut kumambang, hartina geus mengkel jeung buleud, wujudna pada nyebut nutpah.
Reuneuh opat bulan disebut gumulung hartina geus padet tur buleud wujudna disebut amarulah.
Reuneuh lima bulan disebut mangrupa nu hartina geus kaciri buleungkeukanna, wujudna disebut ahmad.
Reuneuh genep bulan disebut usik hartina janin geus karasa usik, wujudna disebut keneh ahmad.
Reuneuh tujuh bulan disebut malik hartina posisina geus bisa malik, wujudna disebut muhamad.
Reuneuh dalapan bulan disebut kumentar-kumentir hartina geus neangan jalan kaluar, wujudna masih disebut muhamad.
Reuneuh salapan bulan disebut ngaruang-ruang hartina geus aya di jalan kaluar, wujudna masih disebut muhamad.
Asup bulan kasapuluh orok dibabarkeun, miboga gelar Rosulluloh.

Teu kurang ti 31 pantarangan pikeun nu keur kakandungan diantarana; teu meunang sare teu make bantal sabab bisa nyusahkeun waktu ngalahirkeun; teu meunang diuk dina lawang panto sabab bisa-bisa hese ngalahirkeun (biasana disebut ngalong); teu meunang ngadahar kulub endog sabab jaga anakna bisa-bisa bisul di sirah; teu meunang ngadahar ganas sabab bisa-bisa anakna jaga boga panyakit koreng; teu meunang ngasaan angeun langsung dina sendok sabab bisa-bisa anakna goreng, jeung sajabana.

Lian ti ayana pantrangan pikeun nu kakandungan (pihak awewe), aya oge pantrangan pikeun salakina diantarana; teu meunang peupeuncitan; teu meunang nyiksa sasatoan; teu meunang nguseup; teu meunang ngadu hayam, teu meunang ngadu domba jrrd. Tur jalma lian ge teu meunang nying perasaan jalma reuneuh. Salaki pamajikan mun kapaksa kudu migawe nu dipantrang alusna kudu ngucapkeun kalimah samodel “ utun inji hayu urang motongan hayam, tapi kade ulah sapotong-potongna lamun lain potongeunana”.


(sumber http://su.wikipedia.org/wiki/Adat_Ngariksa_nu_Kakandungan)

Senin, 04 Oktober 2010

Malware Pengirim SMS Terdeteksi di Ponsel Android

Jakarta - Malware (program jahat) patut diwaspadai karena keberadaannya kian merambah ke berbagai perangkat, termasuk ponsel Android. Hal ini dibuktikan oleh hasil temuan Kaspersky yang mendapati malware pada ponsel dengan sistem operasi dari Google.

"Malware bernama 'Trojan-SMS.AndroidOS.FakePlayer.a' muncul sebagai aplikasi media player pada umumnya, namun dapat mengirim SMS ke nomor premium tanpa sepengetahuan pengguna," ujar Mobile Research Group Manager Kaspersky Lab Denis Maslennikov. Kaspersky bahkan mengklaim temuannya merupakan malware pertama yang pernah ditemukan pada ponsel Android.

Maka tidak mengherankan jika Kaspersky kemudian memasukkan malware berukuran 13 Kbytes tersebut ke dalam database antivirus mereka. Padahal Kaspersky sendiri tidak memiliki produk solusi antivirus untuk perangkat berbasis Android. Dikutip detikINET dari PC World, Rabu (11/8/2010), hal ini kemudian mendorong Kaspersky untuk membuat antivirus khusus Android yang kabarnya akan dirilis awal 2011.

Sebagai tambahan, Maslennikov menyarankan agar pengguna berhati-hati ketika memenuhi persyaratan yang diminta sebuah aplikasi sebelum menginstalnya. Artinya, malware tersebut tidak akan menyebar begitu mudahnya di dalam sebuah perangkat tanpa seizin penggunanya. (Source: http://www.detikinet.com/read/2010/08/11/113955/1418040/323/malware-pengirim-sms-terdeteksi-di-ponsel-android)

Kamis, 05 November 2009

Visit to Bandung City

Bandung [1] is the capital city of West Java, Indonesia. Nicknamed Parijs van Java (Paris of Java) by the Dutch for its resemblance to Paris and European atmosphere back at the colonial times. Bandung also earned another nickname as Kota Kembang, literally meaning the Flower City since Bandung used to have a lot of flowers.

Located at the altitude of 768m with the surroundings of lush and beautiful Parahyangan mountains makes the climate mild and pleasant. The city has been well known for the universities, apparel products and a great place for gastronomic adventure. Nowadays, Bandung has become a very popular weekend escape for Jakartans, who would crowd the city on weekends and national holidays.

Understand
Although the oldest written reference to the city dates back to 1488, there were numerous archaeological finds of Australopithecus (Java Man) living on the banks of Cikapundung river and the shores of the Great Lake of Bandung.

In the 17th-18th century, the Dutch East Indies Company (VOC) created small plantations in Bandung, with a road to Batavia (today's Jakarta) completed in 1786. In 1809, Louis Bonaparte, the ruler of the Netherlands and its colonies, ordered the Dutch Indies Governor H.W. Daendels to improve Java's defenses against the threat of the English, who occupied the nearby Malay peninsula. Daendels responded by building the Great Post Road (De Groote Postweg), stretched about 1000 km between the west and the east coasts of Java. As much of the north coast was impassable swamp and marsh at the time, the road was diverted through Bandung along what is now Jalan Asia-Afrika.

Daendels liked Bandung's strategic location so much that he ordered the capital to be moved there. Military barracks were built and Bupati Wiranatakusumah II, the chief administrator of that area, built his dalem (palace), Masjid Agung (the grand mosque) and pendopo (meeting place) in the classical Javan alun-alun (city square) near a pair of holy city wells (Sumur Bandung) and facing the mystical mountain of Tangkuban Perahu.

Powered by its cinchona (for malaria drug quinine), tea, and coffee plantations, Bandung prospered and developed into an exclusive European style resort with hotels, cafes and shops. Many of Bandung's landmarks, including the Preanger and Savoy Homann hotels as well as the shopping street of Jalan Braga, date to this time. The Concordia Society, now Gedung Merdeka, was built with a large ball room as a club for rich Europeans for their weekends.

In 1880, the first major railroad between Jakarta to Bandung was opened, boosting light industry and bringing in Chinese workers. The first of Bandung's universities, the Technische Hogeschool (TH) was established on July 3, 1920. Now known as the Institut Teknologi Bandung (ITB), one of TH's alumni was the independence leader and first president Soekarno.

In 1942, after Japanese soldiers landed in coastal areas of Java, the Dutch retreated from Jakarta to Bandung, but were driven out from there as well and surrendered soon after. After the end of the war, the Dutch returned with a vengeance and on March 24, 1946, during the struggle for Indonesian independence, the city of Bandung was burned down by its own residents (Bandung Sea of Fire/Bandung Lautan Api) as a sign of refusal to surrender and over 200,000 people fled the city.

In 1955, the Asia Africa Conference (Konferensi Asia Afrika) was held in Bandung, paving the way for the creation of the Non-Aligned Movement in 1961 The Indonesian parliament was held in Bandung from 1955 to 1966, but was moved back to Jakarta in 1966.

Orientation
Today's Bandung is a sprawling city of 2.7 million people and suffers from many of the same problems as other Indonesian cities. Traffic is congested, old buildings have been torn down and once idyllic residences turned into business premises.

Jalan Asia-Afrika, the former Grote Postweg, remains one of Bandung's main thoroughfares and connects together the alun-alun (city square) with many of the city's colonial landmarks.

Get in
Alone among Indonesia's large cities, Bandung is not by the seaside, but in the central highlands. Direct transport links are thus limited, and the easiest way to go to Bandung is via Jakarta, the Indonesian capital. On the upside, the connections are excellent and the trip up through the Parahyangan mountains is quite scenic.

By plane
Bandung's Hussein Sastranegara (IATA: BDO airport has a difficult location among the mountains and has only limited services with small planes. The airport is located at the end of Pajajaran Street, 4 km from the centre of the city. A metered taxi costs approximately US$1, but most hotels provide a free airport transfer services.
Some airlines serving Bandung:

Air Asia [2] - operates thrice daily flights from Kuala Lumpur and daily from Singapore (no-frill airline)
Merpati [3] - Balikpapan, Batam, Denpasar, Palembang, Surabaya, Tarakan and Ujung Pandang.
Sriwijaya Air [4] - operate daily flight from Surabaya

There are no longer any scheduled services from Jakarta to Bandung, as both Merpati and Deraya have stopped their flights. Charter plane/helicopter service is still available if you really need a zippy connection.
Jakarta's Soekarno-Hatta airport is about 3 hours away (plus any traffic jams). A number of companies offer direct shuttle services; see the next section for details.

By bus
Bus services connect Bandung and smaller surrounding cities. Several long-route buses are also available from major big cities. The most convenient way is the air-conditioned bus with the express or non-stop tag. The main bus terminals in Bandung are Leuwipanjang, serving buses from the west (Bogor, Jakarta, Merak, Pandeglang, Tangerang, Depok, Bekasi, Cikarang, Cibinong and Sukabumi.) and Cicaheum, serving buses from the east (Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Banjar, Pangandaran, Indramayu, central Java cities, eastern Java cities and also from Bali Island).

By shuttle bus
With 7-10 seater minivans leaving every few minutes, the shuttle bus market between Jakarta and Bandung is fiercely competitive. Roughly speaking, services can be categorized as either door to door (chartered car or van that takes your group exactly where you want to go, for c. US$50-75) or point to point (from a terminal to another, for under US$10). Many companies offer both.

A select list of larger transportation companies:
4848. Jl Prapatan 34, Jakarta 10410. Tel.: (62)(21) 381 4488, (62)(21) 386 4848. The service is great, reliable and safe. Price: approx. US$ 25/car (4 persons).

Cipaganti. Probably the biggest name in the business, they serve over a half a dozen points throughout Jakarta and its suburbs from their terminal at the Bandung Trade Center (BTC) on the western side of the city, with shuttles leaving every 20 minutes or so on most routes. Rp. 75,000 for a shared ride, Rp. 700,000 for a point-to-point charter.

Baraya. The cheapest travel from Jakarta to Bandung, for only Rp. 45.000 for a shared ride.

Primajasa, tel. +62-22-6073992 (Bandung), tel. +62-21-8009545 (Jakarta). Direct shuttle service from Jakarta's Soekarno-Hatta Airport to Bandung Super Mall. The trip takes approx. 3 hours and the cost is approx. US$ 6.50/person. Schedule: once every hour from 8 AM to 9 PM.

Silver Bird Van (Blue Bird Group), Jl. Mampang Prapatan Raya 60, South Jakarta. Tel.: (62)(21) 798 1234. Price: Rp750.000 door to door, plus toll fee Rp40.000.

X-Trans, Jl. Blora 1 AB, Central Jakarta, Tel.: (62)(21) 315 0555. Price: approx. US$ 55/car 10 persons

By car

Bandung is two hours away from Jakarta by car, thanks to the new Cipularang toll road that completes the inter-city highway between Jakarta and Bandung. It is now faster to travel to Bandung by car than by train from Jakarta.

During the rainy season, parts of the Cipularang toll road may be closed because of landslides. On weekends, traffic jams often occur near the toll gates in the Djunjunan/Terusan Pasteur area.

One alternative route is by the slower, but enjoyable, route from Jakarta - Puncak - Cianjur - Bandung. If you travel by car using this route, then make sure to stop at the Puncak Pass, the tip of the highland just on the outskirts of Jakarta. From here, the view of tea plantation with fresh air can be enjoyed. There are plenty of good restaurants and hotels out there.

There is also a beautiful safari park/zoo in Puncak: Taman Safari Indonesia, Jl. Raya Puncak No.601, Cisarua, Bogor 16750. Tel.: (62)(251) 250 000, Fax.: (62)(251) 250 555. [5].

By train
State operator PT Kereta Api Indonesia [6] offers frequent services between Jakarta and Bandung, as well as connections onward to Surabaya. Evem the fastest services take almost three hours, making this a slower option than the shuttle buses, but the scenery between Jakarta and Bandung is beautiful. The railroad passes mountains and padi terraces. Don't miss this view when traveling by train. Use the AC (air-conditioned) coach if you cannot cope with the tropical heat. Most hotels in Bandung provide free transportation from train station to the hotel.

Train services
Train names Routes
Argo Gede Gambir (Jakarta) - Bandung
Parahyangan Gambir (Jakarta) - Bandung
Argo Wilis Gubeng (Surabaya) - Bandung
Turangga Gubeng (Surabaya) - Bandung
Mutiara Selatan Gubeng (Surabaya) - Bandung
Harina Semarang - Bandung
Lodaya Malam Balapan (Solo) - Bandung
Lodaya Pagi Balapan (Solo) - Bandung
Parahyangan Cirebon Cirebon - Bandung
Pasundan Gubeng (Surabaya) - Bandung
Kahuripan Kediri - Bandung
Sawunggalih Selatan Kutuarjo - Bandung
Serayu Kroya - Bandung
Serayu Kota (Jakarta) - Bandung
Baraya Geulis Padalarang - Bandung - Cicalengka
KA Cibatu Purwakarta - Bandung
KA Cibatu Cibatu - Bandung
KA Cianjur Cianjur - Bandung
KRD Patas Cicalengka - Bandung


Get around

Some tips on using angkot:
There is no uniform color, but each route has the same 2-color scheme, even the same model of minibus (some routes may mix Kijangs and minibusses). There may be custom variations to the vehicles because they are privately-owned.

Usually an angkot is a modified ordinary minibus. The 10 seat minibus becomes 18 seats. This is possible by lining passengers side by side. It might be a bit awkward for the first-time users.

Don't be nervous about touching other passengers,; the cramped seating often makes it unavoidable. Do be aware that some pickpockets operate on angkots. Be very careful if you see someone acting sick or odd.

To stop, just shout 'kiri !!' (pron: kee-ree), translated left in English. It is a request for the driver to pull aside to the left.

The most comfortable and safest seat is usually the front-window, next to the driver.
Payment is by direct cash only, but preferably in small denominations. An average single trip fare costs Rp2.000 ~ Rp5.000

The door is typically removed, so don't be scared if it is missing.



Travelling around in Bandung is quite complex and frustrating, especially to newcomers. There is no mass rapid transit system, metro nor tram in Bandung. Locals travel using small public minibuses, known as angkot from angkutan=transport and kota=city.

By angkot
This city transport has only origin and destination names on top. Sometimes with via description if there are more than one angkot route for a certain origin-destination route. There is no route description anywhere. For locals, it is somewhat amazing that they only memorize where and how the route of each angkot route.

Although there is an official price for angkot from organda (the local organization of these private city transport), sometimes price is based on how far you travel. It's better that you ask the driver or kernet (driver assistance) about the price to go to a location. To ask for an angkot to stop and pick you up, just raise your hand and they will stop. When you're inside and want to stop, just ask the kernet to stop. Or say 'kiri' (key-reey) or simply 'stop' out loud. It was easy to find a bell that you can press to stop but not anymore. Most angkot fare are ranging from 2000-3000 rupiah (about 25 cents USD) depends on the route and distance.

By taxi
If you don't know which angkot routes to take, then you can take a taxi. Officially, taxis use meters, but some taxi drivers may refuse to use meters and will charge you a fixed price instead. Don't be afraid to refuse and walk away, even locals are annoyed by this behaviour. Metered cabbies may also take you the long way to get more money. So be careful when travelling by taxi. The most reliable taxi company (i.e always use the meter, go straight to the destination) in Bandung is Blue Bird.

List of taxi companies in Bandung:
4848, Jl Suniaraja Tmr 39, Bndung 40111. Tel.: (62)(22) 4234848. Reliable, good service on Bandung to Jakarta route.
Bandung Raya, Jl Dr Setiabudi 177, Bandung 40153. Tel.: (62)(22) 201 4018.
Blue Bird, Jl Terusan Buah Batu 194, Bandung 40286, Tel.: (62)(22) 7561234. Good reputation and reliable.
Centris Taxi, Jl Soekarno-Hatta 606-A, Bandung 40235. Tel.: (62)(22) 7512100. Branch of Centris Taxi company in Jakarta.
Gemah Ripah, Tel.: (62)(22) 4217070. Second choice after Blue Bird.
Kota Kembang, Jl Kiaracondong 338, Bandung 40275. Tel.: (62)(22) 7312312.
Putra, Komplek Marga Asih Indah, J. Nilem 2 Blok J1 No. 10, Bandung 40215 Tlp. (62)(22) 5405010

By bus
There are also some bus lines, but they don't cover the whole city. City buses usually cover long routes across the city from end-to-end; for example, from the north to the south and from the west to the east. The city bus is called DAMRI.

By car
Using your own car or renting a car is probably the easiest and the most convenient way to travel around Bandung and surrounds. If you don't have a valid driving licence, then you can also rent a car with a chauffeur, which is very common for western travelers. Perhaps it is even better to rent a car from Jakarta. You can stop for one night in Puncak, Bogor or Sukabumi.

World-wide Car Rental companies are now available in major cities in Indonesia:
WITRencar Car Rental

Mulia Car Rental [9] well known for their reliable service and reasonable rate. tel: (62) (22) 70750566 - 70167297, mobile: +62 8122015474.
EuropCar [10] Rental in Bandung (also in Jakarta and Semarang)
Location: Bandung Airport (Hussein Sastranegara Airport). Tel: +62 (22) 6015871
Dwima Car Rental [11] Car Rental for reasonable rate.
Hadi Rentcar [12] Indonesian car rental.

For Local Car Rental in Bandung:
Total Car Rental [13], Jl. Jajaway Dago Atas no. 12FA, Bandung 40135, Tel: +62 (22) 8252 0044. They also provide Bandung tour packages that you can choose, beside hotel reservation to manage your trip/ground arrangements.
Cipaganti, Jl Cipaganti 84, Bandung 40131. Tel.: (62)(22) 2034376. Good, reliable service.
Dirgantara, Jl Lamping 7, Bandung 40131. Tel.: (62)(22) 2035050.
Lysan, Kompl Mitra Dago Parahyangan Bl I/11, Bandung. Tel.: (62)(22) 7217070.
Revin Tour & Travel, Jl Gatot Subroto 201, Bandung. Tel.: (62) (22) 7330111
* Kangaroo Transport, Jl.Dr Junjunan No.24 Bandung. Jakarta Ruko Inkopal F22 Kelapa Gading For Reservation Call Center : Jakarta : (62) 21 - 4585 1575 Bandung : (62) (22) 204 0505

Note that traffic in Bandung is so complex and the city administration likes to make experiments about the traffic. There are lack of traffic signs and directions. Most major roads are one-way, which makes it difficult to turn around if you are lost. Be careful to enter a street that it might be a one-way street from the opposite direction and there is no no-entry sign. Then, there is a police hiding somewhere and at once he will pop up instantly to stop you, which finally you will have to pay him some money.

See
Architectural Jewels
In the late 18th and early 19th century, as locals called it the bandoeng tempo doeloe (old Bandung) era, there were many buildings built with an art-deco style. The city that had served as a weekend resort for European rich men has made these type of buildings possible. Unfortunately the city administration has a tendency to create a modern look of the city with suspension bridge, banks, malls and commercial areas, instead of preserving old historical buildings. The non-profit organization Bandung Heritage Society [14] has been formed recently to save these jewels forever.
Make sure you see these buildings before they're gone.

Villa Isola, Jl. Dr. Setiabudhi 229.
Architect: C.P.W. Schoemaker. Built in 1932 for an Italian millionaire D.W. Berretty as a villa. It lies in the northern part of Bandung, overlooking the city to south and the Tangkuban Perahu mountain to the north. Villa Isola and its 2 gardens have a magnificent design by its architect, combining the unique landscape and the Indo-European architectural style. This monumental art was later used for a hotel, named Hotel de Luxe. Now it serves as UPI's (University of Education Indonesia) headmastership building.

Gedung Merdeka, Jl. Asia-Afrika 65 (near alun-alun or city square).
Architect: Van Gallen Last and C.P.W Schoemaker. Built in 1895 for a club house for rich people, named the Concordia Society. In 1955, this building was famous as the first Asian-African conference venue. Now it is a museum for that conference.

Savoy Homann Hotel, Jl. Asia-Afrika 112, (+62)-22-4232244. it was built in 1880, renovated in 1938 by a Dutch architect A.F. Aabers with an art-deco style as it is seen today. It still serves a hotel until now. The King and Queen of Siam, The Prince and Queen of Belgium, The Governor General of Indo-China, The Duchess of Westminster and even Charles Chaplin had stayed there three times. You can also still stay in this hotel and enjoying the old colonial time.

Grand Hotel Preanger, Jl. Asia-Afrika 81.
It has two sides: the old facade and the modern wing side. The old facade has an interesting story, as C.P.W. Schoemaker designed the art-deco style that is blended with local culture. It was a controversial issue at that time, but that gives a unique style.

Gedung Sate, Jl. Diponegoro.
Architect: J. Gerber, built in 1921. It was used as the head of the Dutch Indies Government Companies. The roof has a decoration of a popular satay food as now it is famous for the name, though it was not meant to be like that. In fact, it is a 6 ornaments, symbolizing 6 million guldens, the cost of the building. Now, the complex is the office of West Java governor and the local provincial house of representatives. Interestingly, this building mixes different architectural styles: Spanish Moorish style for the windows, Italian renaissance for the over all building, and between Balinese pura & Thai's pagoda for the roof. The facade faces directly to the Mt. Tangkubanperahu. The building is open for public, and at the end of the journey inside, you can sip a nice hot bajigur drink while watching the city view from the top floor.

Cipaganti Mosque, Jl. Cipaganti.
Architect: C.P.W. Schoemaker, built in 1933. It was the only mosque that was built in the European residential area in the northern part of Bandung. The central facade still has the original design, but the mosque has been expanded to both of its side.

ITB West and East Hall (Aula Barat & Timur ITB), Jl. Ganesha 10.
ITB is Institute Technology Bandung, the oldest institute of technology in Indonesia. It was built in 1918 by the architect Maclaine Pont. The most prominent Dutch East Indian architecture is the West and East Hall of this institute, where a West Sumatran style of architecture was used.

Art & Science
Bandung has been the melting point between the local Sundanese culture and the high-end technology developed at the Institute Technology Bandung. There are some interesting places to visit:

Saung Angklung Udjo [15]. Angklung is a traditional South-East Asian musical instrument, made by bamboo. Udjo Nalagena, a famous angklung artist, created an Angklung House in the outskirt of Bandung, where angklung is made, learned and played. You can enjoy an angklung orchestra played by 12 year old or less children or even be a part of this orchestra, holding one of the angklung instruments. The place is in the middle of padi terrace and bamboo field, a perfect location to feel the relaxedness of a small village. It is one of the famous travel destinations among westerners and is highly recommended.
Location: Jl. Padasuka 118, around 7km from Bandung.
How to get there: The easiest way is to rent a car to go there or ask your travel agent if there is a program to visit this place.

Bosscha Observatorium [16], built in 1923 by Nederlandsch-Indische Sterrekundige Vereeniging (Assoc. of Dutch-Indies Astronomers) is the only observatorium in Indonesia. It lies in Lembang, a small suburb city in the northern part of Bandung. It is now part of the Dept. of Astronomy, Institute Technology Bandung.
Location: Jl. Peneropongan Bintang, Lembang 40391. Tel: (+62) 22-2786001. E-mail: administration[at]as.itb.ac.id
To visit there, ask the department administration first for a reservation. Some visiting notes:
Reservation must be made 1 month before.
Bosscha is closed on national holidays, Sunday and Monday.
Day visit at 9:00, 12:00 (except Friday at 13:00) and 15:00.
Public night (17:00-19:30), between April-October, with some presentations and demos. Ask there for a specific date as this public night is open at the 7th & 8th of the lunar month.
Special visit can be arranged, subject to their availability.

Geological Museum, houses 250.000 rocks and mineral collection, and 60.000 fossils. There are 3 major rooms in the museums: the geology of Indonesia, the history of life and the geology of human life. The building itself has an art-deco style, built in 1928 by a Dutch architect Wnalda van Scholtwenburg.
Location: Jl. Diponegoro 57, Bandung. (near Gedung Sate complex). Tel: (+62)-22-7203205.
Visiting time: every day 09:00-15:00 except Friday. Price: Free. Recommended museum by locals.
Sri Baduga Maharaja Museum

Pos dan Giro Museum

Mandala Wangsit Siliwangi Museum


Do
There are many activities that you can do in the city or outside the city. As Bandung highland is surrounded by a string of mountains, activities in the outskirt of the city are mainly mountain resorts, adventures and outdoor sports. In the city, you can have culinary activities (see the Eat section) as there are so many food varieties, shopping with many clothing outlets and distros (see the Buy section) or just hanging around.

Saturday Night at Jalan Dago. Every Saturday night, teenagers and youngsters are hanging around at Jalan Dago. The street stretches from Holiday Inn Hotel in the south and a few blocks to the north until Simpang Dago. The street is crowded with modified cars with loud music. Don't bring your own car if you don't want to get stuck in a traffic jam. Just walk and watch these hip-hop youngsters. There are some cafes and chic restaurants in the street that you can sit in. Don't forget to buy some grilled sweet or hot-chili corn that is sold at the street stalls. The party usually lasts until midnight.

Sunday Morning at Gasibu Park. After having a party on Saturday night, wake up very early in the morning around 5-7AM. Go to Gasibu park at the front of the Gedung Sate complex and wear your sportswear. At the park, you can go jogging and do some stretching, and after you finish, food stalls are already waiting for you with a lot of food varieties. People's favourites are dim sum ceker (a chicken foot cooked like a dim sum) and nasi liwet (a rice cooked with coconut milk and served with chicken and other vegetables). In the walking distance, there is a famous yoghurt drink cafe with a nice and relaxing setting at Jl Cisangkuy.

Lembang trip. A trip to the north of Bandung cannot be missed. Rent a car and start to go at the very early in the morning to Lembang, an uphill resort city.
On the way to Lembang, you can make a sidetrip to Bosscha, the only observatorium in Indonesia. Please make sure you have made a reservation and take a note on its opening hours.
Continue your journey to Lembang and stop at one of the food stall that sells fresh milk. You can drink fresh milk with many flavours. The milk is really fresh.
Go to the Mt. Tangkuban Perahu. Go circling around Kawah Ratu (Queen's crater) to see the volcanic activity closely. There are other craters: Kawah Upas and Kawah Domas. Beware of the tourist hawkers who sell many things at unreasonably expensive prices.
Continue the journey to Sari Ater, a hot water spring complex. On the way, there is a good Sundanese restaurant, named Sindang Reret, that you can stop by for your lunch.

Sari Ater is a resort with natural hot water spring pools, some recreation parks and healthy spas. Stay overnight and have a good dinner at their restaurant.
On the way back to Bandung, take a stop at a street food stall and have some grilled 'sweet corns or grilled ketan (sticky rice) while enjoying the view of the tea plantation.

Ram fighting: Villages around Bandung host ram fights on alternate Sundays. It's a big event for locals who turn out in their hundreds to watch 5-minute bouts between prize fighter male sheep. Tournaments are held in purpose-built rings in outlying villages. Best to hire a motorbike/guide in Bandung who knows when and where the next tournament is on. Fahtur Gunawang is a local ram enthusiast and travel guide, tel 0062-81809878336 or email fahtur_gunawan@hotmail.com. Ram fighting is not a blood sport but animal lovers may be upset at the sight of the fights, which are organised and refereed rather like boxing matches.

Cinema
The ticket prices are based on the days, in which Monday as the cheapest ticket price, and weekends as the most expensive
Blizmegaplex, Paris Van Java Mall Jl. Sukajadi. Telp (022) 820 63630. 9 screens. Ticket price: Rp. 15,000 - 22,000 - 27,000
BSM XXI, Bandung Supermall Lt. 3, Jl. Jend Gatot Subroto. Telp: (022) 612 6521. 5 screens. Ticket price: Rp. 15,000 - 25,000
BTC XXI, Bandung Trade Center Lt. P-2/3, Jl Dr. Djundjunan no. 143-149. Telp. (022) 910 1121. 5 screens. Ticket price: Rp. 10,000 - 15,000
Blitz Megaplex, Mall Paris Van Java, Jl. Sukajadi 136-139. Telp. (022) 820 63630. 9 screens. Ticket price: Rp. 10,000 - 25,000
Braga 21, Braga City Walk Lt. 2, Jl. Braga 99-101. Telp. (022) 844 60121. 3 screens. Ticket price: Rp. 10,000
CiWalk XXI, Cihampelas Walk Lt. 4, Jl. Cihampelas 160. 8 screens. Ticket price: Rp. 15,000 - 25,000
CiWalk XXI The Premiere, Cihampelas Walk Lt. 4, Jl. Cihampelas 160. 2 screens. Ticket price: Rp. 50,000
Empire 21, Bandung Indah Plaza Lt. 3, Jl. Merdeka 56. Telp. (022) 424 0719. 6 screens. Ticket price: Rp. 15,000
Galaxy 21, Jl. Kepatihan. Telp. (022) 420 8143. 6 screens. Ticket price: Rp. 9,000 - 13,000
Jatos 21, Jatinangor Town Square, Jl. Raya Jatinangor No. 150. Telp. (022) 8792 0089. 5 screems. Ticket price: 10,000 - 15,000
Nusantara 21, Jl. Alun-Alun Timur No. 3-7. Telp. (022) 4237 040. 4 screens. Ticket price: Rp. 8,000 - 10,000
Regent 21, Jl. Sumatra 2. Telp. (022) 423 6370. 3 screens. Ticket price: Rp. 8,000 - 10,000

Outdoor Activities
Alun-alun Bandung or city square. Alun-alun is the classical central core of the democratic city in Indonesia, since the 15th century. It is typically a square of grass field with 4 sides are the city major residence, pendopo (a place to meet between citizens and the government), a mosque and a prison. The grand mosque is still visible, though it has been renovated 7 times. Now, it has undergone a major renovation and expansion with two 81 m high minarets and a Taj Mahal interior design. The pendopo is also still there, behind a high wall. The prison has been transformed into a mall with one block is preserved as a museum, a cell block where Soekarno, the first president of Indonesia, spent some time in there. The major transition is that now alun-alun serves as an entertainment park, where shopping mall buildings are surrounding the square.
Bandung Zoo, built in 1930.
Location: Jalan Kebun Binatang No. 6 Bandung 40132. Tel: (+62)-22-2502770.

Mt. Tangkuban Perahu. You can see it at almost anywhere in Bandung, but it is not complete before you see its crater. If you're in Bandung, take a look at the north side and find an unusual shape of mountain. The name itself comes from the local Legend of Sangkuriang ("Legenda Sangkuriang") about a disobedient son who kicks his boat upside-down and then cursed into stone. Hence the name of this mountain. Tangkuban = flipped and perahu = boat mean the shape of the mountain looks like a flipped boat. It's still an active volcanic mountain. The crater is reachable by car, though it is fun to do hiking to the top by foot from Lembang. Its elevation is 2084 m above the sea level and the path from Lembang is not too steep. At the crater, it is a touristic spot. Near the main crater is another amazing site, 'Kawah Upas', where you stand between two big craters, left and right.
Location: northern side of Bandung, the closest city is Lembang.
Angkot route: St. Hall-Lembang.

More about Tangkuban Perahu
When you reach Tangkuban Perahu, the first thing you'll see (and most popular) is the main crater (Kawah Ratu). But don't stop there! Many tourists miss this but it's probably the best part of Tangkuban Perahu:

Kawah Domas. A 30 min walk from Kawah Ratu, track 1.3km down to Kawah Domas to get upclose and personal with volcanic activity. K.Domas looks like hell on earth and it's a must experience - bubbling mud, boiling hot water, and hissing sulphur vapor. You can smell the sulfur, watch the hot water springs very closely or even buy a boiled egg from the hot surface. Don't forget, the hike up is as tiring as the way down so it's best to avoid flip flops!

Getting to Tangkuban Perahu
From Bandung Indah Plaza (BIP), take an 'angkut' heading to "CAHEUM - LEDENG". The angkut will stop you at Terminal Ledeng (IDR 3000). From the terminal, take a mini van or 'Elep' towards Subang and get down at Tangkuban Perahu (IDR 12000). From the entrance of Tangkuban Perahu, it's another 4-5km hike up on a really bad road. I've been told you could hire 'motorcycle cabs' to bring you up though I have not verified that information. If you can ride a motorcycle, it's a lot easier to rent one to get there.

Juanda Forest Park or Dago Pakar. The official name is Taman Hutan Raya ir. H. Juanda. It is a forest park, serves as a water reservoir for the city. There are some interesting parks for children or to have a picnic there. There are also some old WW II caves during the Japanese era. Some people walk through the forest to reach Maribaya park in Lembang.
Location: at the end of Jalan Dago.
Angkot routes: Abd. Muis-Dago and followed by walking or take a ride by motorcycle.

Punclut-Lembang Hiking trail. Started from Puncrut, Jalan Kiputih, North Bandung.

Buy
Fashion shopping and its accessories is the main reason for many weekend travellers from Jakarta, because those items are expensive in Jakarta. Starting with denim (jeans) stores along Jln. Cihampelas in the 90s with unique facades to attract people, fashion stores grow rapidly into sisa exports (rejected export products), then factory outlets, now with the new trend is the distro (distribution outlets). Don't expect luxury labels, because you can find them in Jakarta.

Local Handicraft and Souvenirs
Wayang Golek is a Sundanese puppet show. Unlike Javanese wayang puppet, wayang golek is made from wood. Find wayang golek at Galeri Cupumanik, Jl. Haji Umar.

Angklung is a Sundanese ethnical music instrument (see at See section).
Leather handicraft, that includes shoes, bags and other accessories. A well-known local shoe handicrafts are centered in Cibaduyut area. The Elizabeth bag maker is famous and it is located at Jl. Otto Iskandar Dinata 520, Tel. (+62)-022-5201125.

Jean street, which is Jl. Cihampelas. A lot of denim shops decorated with funky designs. Do not be surprised to see giant models of Superman, Goku, Rambo and others, standing guard over the shops.

Souvenir Shop, in Jl. Cihampelas no.39.Tel.(+62)-022-4205427. Very good quality and inexpensive local souvenirs. The shop is hosted in a lovely old Dutch colonial style.

Toko Sin Sin, in Jl. Braga 59 Tel (+62)-022-4238574. Sells various high quality handicraft and souvenirs, including wayang golek (wood puppet), wayang kulit (leather puppet), angklung, leather and crocodile skin handicraft (mostly bags, wallets, and belts), wood carvings, Indonesian traditional silverworks, paintings, and even Indonesian furniture. This is a shop with very long history, started even before Indonesia gained independence.

Shopping Malls
Alun-alun/Centre of the city. In the alun-alun area there are many shopping malls, but they are rather old.
Cihampelas Walk (Ciwalk), Jl. Cihampelas. [18]. Shopping, dining and hanging out in a cozy and relaxing atmosphere.
Bandung Electronic Center (BEC), Jl. Purnawarman 13-15. Specializing in computers and cellphone.
Bandung Indah Plaza (BIP), Jl. Merdeka 56. Food court, cinema.
Bandung Supermall (BSM), Jl. Gatot Subroto 289. Food court, cinema. Also offers you high class clothes store such as Hugo Boss, Raoul, Next, Mango, Guess, Esprit, and many more.
Bandung Trade Center, Jl. Terusan Pasteur 143. Food Court.
Braga City Walk, Jl. Braga. [19]. Shopping complex at the heart of the famous Braga Street.
Istana Plaza, Jl. Pasirkaliki 121 - 123. [20]. Free wireless internet, assisted taxi stand, cinema, shopping reward programs, and ice skating ring.
Kings Shopping Center 1 & 2, Jl. Kepatihan. Food court, fashion, cinema.
Setrasari Plaza, Jl. Surya Sumantri 120. Food court. Near universities.
Paris Van Java Mall, Jl Sukajadi. Offers you the quite attractive atmosphere, a mix and match environment between outdoor and indoor mall. From Carrefour, a mega supermarket to Gramedia, a giant bookstore, from cafe to bistro, from a simple shop on the island of the mall to the high class clothes store such as MNG, GUESS, H.O.B., and ESPRIT can be found here.
Kepatihan Plaza, Jl. Kepatihan. Fashion, Supermarket and Food Court.
Istana Building Commodities Center, Jl. Jendral Ahmad Yani. Building materials, electronics, computers.
Bandung Electronic Mall, Jl. Naripan. Electronics, Computers, Cellphones and Food Court.
Planet Dago, Jl. Ir. H. Juanda. Cellphones, Bowling Court.
Plaza Dago, Jl. Ir. H. Juanda. Fashion, Ice Skate Court, Food Court.
Metro Indah Mall, (former Metro Trade Center) Kompleks MTC Jl. Soekarno Hatta No. 590, Tel. (62)(22) 7538448, 7537577.
Mall Lingkar Selatan, Jl. Peta. Supermarket, Food Court.
Jatinangor Town Square, Jl. Raya Jatinangor. The complete shopping mall in eastern Bandung.
Plaza Pajajaran, Jl. Raya Jatinangor.
Cimahi Mall, Jl. Gandawijaya. The first shopping mall in Cimahi.
Mall IITC Kopo, Jl. Kopo. Cellphones and Food Court.
Bandung Trade Mall, Jl. Kiaracondong.
Lucky Square, Jl. Terusan Jakarta.
Plaza Cimahi, The newest shopping mall in Cimahi located at Jl. Raya Cibabat.
Factory Outlets
Sisa Export
In the textile industry, it is very common for a textile product made in, for example Indonesia, exported to other countries, such as Singapore, South Korea, etc., and re-labeled by their own label and change the made-in tag into their country. Some branded names, such as GAP, have their factories in Indonesia. Since the production costs in Indonesia are very low, they can gain a big profit by this way.
During the quality inspection, some of the products might be rejected, or they may overrun the production quota. These residual products are sold with sisa export tags, because they were made for export, but couldn't pass through. Some of these items have Grade A (best quality, but overrun product) or Grade B (export quality, but do not pass QC) qualities. Don't be surprised to see made in Korea or made in Singapore in their tags. Sometimes you will see the original price, such as USD$65, but they sell it for Rp. 45.000,00 (US$ 4.50).
Enjoy bargain hunting! Take a careful inspection yourself. Check for below-standard/damaged items. Beware also for the fake products with branded name.

It was originally meant for export garment (textile) factories that open a store directly in their area so that they can sell with bargain prices. Since it was a big success, many factory outlets without the factory itself were opening in many places in the city, also with bargain price tags. To attract people, they decorated the store with many styles: the colonial style, an old Chinese dynasty, etc. Some stores even have a small food court.
Most of factory outlets are concentrated in Jl. Riau, Jl. Dago (Jl. Ir. H. Juanda) and around Jl.Sukajadi-Jl.Setiabudi area. Some of them are listed below:

Factory outlets in Jl. Riau: Heritage (inside an old historical building, nice to see also the building), Cascade, Summit, Oasis, Metropolitan, Renarity, Secret, Terminal Tas, Edward Forrer, Stamp.
Factory outlets in Jl. Dago: Rich & Famous, Coconel, Glamour, Blossom, Uptown (with a small kiosk selling a strawberry juice), Dago Stock Centre, M&M, Justine.
Around Jl.Sukajadi-Jl.Setiabudi: Rumah Mode (Jl. Setiabudi 41F), Diaz (Jl. Sederhana mostly shoes).
Other places: Batian (Jl. Otto Iskandardinata 535, you can find used and new items), Stock Center (Jl. Sukarno Hatta), Cargo (Jl. Diponegoro), Cosmo (Jl. Pelajar Pejuang 45), The Big Price Cut (The first factory outlet in Bandung) (Jl. Aceh)

Distros (Distribution Outlets)
Distros are a new phenomenon in Bandung where a shop sells stylish products that were made by local designers. They are served as a distribution store, because these local designers do not have their own marketing label yet. The products that are sold are books, indie label records, magazines and also other fashion products and accessories. After their products receive large attention, then they make their own clothing company. Now, there are more than 200 local brand names in Bandung. One thing that makes distros stand out from factory outlet is that distros come from individual designers and young entrepeneurs, while factory outlet products come from a garment factory.

Note that now distros are getting famous in Indonesia. The local branded name with free and independent motivation has been shifted. Be careful when buying in distros as the prices are increasing to a level almost the same as at boutique shops.

Some of Bandung distros:
unkl347, Jl. Trunojoyo 4,
Invictus,Jl.Pager gunung 13 and Jl.Trunojoyo 6
Ouval Research, Jl. Buah Batu 64,
No Label, Jl. Sumatra 24,
Blackjack, Jl. Trunojoyo,
Screamous, Jl. Trunojoyo,
Badger, Jl. Trunojoyo,
Airplane,"starseeker","oglea", "Blankwear" Jl. Sultan Agung,
Cosmic, Jl. Trunojoyo,
Green Light, Bandung Indah Plaza Lt. 2 and Jl. Buah Batu,
Temple, Jl. Dipatiukur,
Skaters, Bandung Indah Plaza Lt. 2, Jl. Cihampelas and Jl. Raya Lembang,
Black ID, Jl. Lombok and Paris Van Java Mall.

Eat
Bandung is a heaven for food lovers who enjoy new experiences. There are a lot of varieties, not only local cuisine but international ones. You can find any food you want for any kind of taste. Do note, that most eateries in Bandung focus on creating new variations, not making sure it tastes good.
Everybody has their own favourites. One page is not enough to list all food stalls, food courts, restaurants and cafes in Bandung. Here are some lists that are popular or have a long history.

Local Delicacies

Bakso Tahu / Siomay is a steamed meat with/without tofu. It is served with peanut paste, sweet soy sauce and a lime. It is suitable for a snack, eat at anytime. In almost all streets you can find somebody selling this food with a wheeled stall (gerobak). The popular place is called Siomay Pak Lili at Jl. Geger Kalong Girang that has sold this food for 15 years.

Batagor is similar to bakso tahu/siomay but it is fried instead of being steamed. It is served similar with peanut paste and sweet soy sauce. Served also as a snack. Legends are Kingsley at Jl. Veteran, selling this food already for 28 years, Batagor Riri [22] at Jl. Burangrang 41 (in front of the BCA building), Batagor Haji Isan at Jl. Bojongloa, and Batagor Haji Darto at Pasar Simpang Dago.

Martabak is a fried stuffed pancake. There are two types: sweet and savory. Sweet martabak is a thick pancake stuffed with chocolate/cheese/banana/sugar. The savory martabak is a thin fried pancake stuffed with eggs, some vegetables, mushrooms, chicken/beef. The most popular ones are Martabak Lodaya and Martabak San Fransisco at Jln. Lodaya. Another recommended place is Martabak Andir at Jln. Jendral Sudirman, near the Andir wet market. My personal favourite is the one filled with sweet corn and cheese. One more best martabak which should not be forgotten is Martabak Canada at Jalan Kebon Kawung near the gas station.

Soto Bandung is a soup with beef meat, soy beans and some vegetables. The old food stalls selling this food is at Soto Ojolali, Jl. Cibadak (near alun-alun), since 1940s.

Lotek is a mixed boiled vegetables, served with peanut paste and some chillies, similar to gado gado. The hotter the better. The famous place is Lotek Kalipah Apo, Jl. Kalipah Apo, every day 9AM-16PM. Have been selling this food for already 48 years. One plate is about Rp. 4500, very cheap.

Mie Kocok is a noodle soup, served with beef foot, beef skin and tauge or mung bean sprout. If you don't fancy with these parts of beef, then you can ask not to have it and you can still taste its appetite. The famous place is a street vendor, Mie Kocok SKM, at Jl. Sunda.

Mie Ayam is a noodle soup served with chicken and it comes with a variety of toppings. The famous place is at Mie Naripan in Jl.Naripan, they serve varieties of good noodles there. Another good place is at Bakmi Mangkok Mas in Jl. Setiabudhi.

Nasi Timbel is the famous Sundanese dish. It is a tube-shaped rice that has a distinguish flavour, because it is cooked inside a banana leaf. It is usually served with lalapan (raw vegetables), fried tofu & tempe, fried chicken and chili paste. You can find this type of dish in most of Sundanese restaurants. The well-known timbel food stall is located nearby Istiqomah mosque. Another good place is at Nasi Timbel Dago at Jl. Dago. One plate cost about Rp. 20.000.

Laksa Bandung is the famous old traditional dish. This dish is kind of chicken soup using coconut milk with turmeric for the stock, and in side is contains rice cake (cooked inside a banana leaf), bean sprout, vermicelli, shredded chicken and for the finishing is garnished with holly basil and Oncom Bandung the traditional fermented soy bean cake. The well-known Laksa vendor is located at the junction of Jl. Pungkur and Lengkong Pondok Laksa. Its cheap and very appetizing. One plate cost about Rp.7000

Legendary Eateries
Have been around for years and still famous for their delicious food:
Sate Kardjan, Jl. Pasirkaliki, every day 24h. Lamb satay speciality, since 1970. Try sate buntel (a grilled minced lamb meat), tongseng (lamb meat in a coconut milk soup), nasi goreng kambing (fried rice with lamb) or sate cempe (satay from 10 month old lamb).

Bubur Ayam Mang Oyo, Jl. Sulanjana (near Gasibu) and several branches. It's a chicken porridge. Nice for starting your day.

Kedai Ma' Uneh, Jl. Terasana I No. 132 Pajajaran. It's in an alley in front of Pajajaran sport complex. Delicious Sundanese food.

Baso Lela, Jl. Awiligar, everyday open until 9 PM. It's new but getting popular. It's in the hill side of Bandung with a nice view to the city. Try yamien, a dried boiled noodle, mixed with soy sauce. There are sweet yamien and salt yamien. Try also chicken noodle and the strawberry juice as a dessert.
Santosa, Jl. Aceh, everyday open from 5 PM until 9.30 PM. It's a nice hawker open tent, favourite place not only for students from many universities in Bandung, but also for youngster in Bandung. Open since '60s. Try the fried kway teow/noodle/rice. They are using a special wok to enhance the taste.
Located opposite of kotamadya office, near KONI Jabar dorm.

Chic Restaurants
For those who want a breathtaking view, eat in a local Sundanese village or have romantic international cuisine. Don't expect the taste to be half as good as the view and experience though.

Kampung Daun, Jl Sersan Bajuri Km 4.7 No 88 Villa Trinity Complex (you need to drive with your own car there). Sundanese food. Designed with natural elements as you eat at a hut in the middle of padi field, small waterfall and river. At night it's really amazing to walk along candlelit pathways. Eating out really means eating out here.

Sierra Cafe & Lounge, Jl. Bukit Pakar no 33. Located on the hill of Dago Pakar in Bandung, Sierra delivers a relaxing and indulging ambience with a breathtaking view of Bandung's city light. International cuisines (Western, Japanese and Thailand).

N Cafe, Jl. Sutra Duta Kencana II/11, Bandung. Balinese & European cuisines, with great scenery surrounding really make u feel comfortable.Great Coffee comes with special brew, try our balinese fried duck speciality then you will never forget the taste.

Kedai Nyonya Rumah, Jl. Naripan 92. Indonesian cuisines. The interior design is very relaxing, giving a nice eating experience.

Tizis Restaurant, Jl. Kidang Pananjung 3. European dishes with homemade bread and pastries. A well-known expats place to dine.

Atmosphere Cafe, Jl. Lengkong Besar No. 97, Tel. : (62)(22) 4262815.

The Peak Resort Dining, Komplek Girandah Desa Karyawangi, Ciwaruga, Parongpong Bandung, Tel. (62)(22) 2705429
The Valley Bistro, Jl. Lembah Pakar Timur No. 28 (Dago) Bandung , Tel. (62)(22) 2531052.
The View Restaurant, Jl Resort Dago Pakar Raya No. 28 Bandung, Tel. (62)(22) 2531198 , Fax (62)(22) 2531196

Sundanese Restaurants
Sunda is the ethnic name of the local people living in West Java. Sundanese food has some distinctive features than other ethnics. It mainly consists of fried fish, pepes ikan (steamed fish in a banana leaf), raw vegetables and chili pastes. To try these type of foods, there are numerous Sundanese restaurants. Some with famous name has many branches in Bandung and the vicinity. Some of the popular ones are:

Sindang Reret, Jl. Surapati No. 53, Tel. (+62)-22-2501474. The other branche is outside the city in the north: Jl. Raya Cikole Km.22 Lembang, Tel. (+62)-22-2786500. The good one is the branch restaurant (see the Lembang Trip).

Ponyo, Jl. Malabar 60, Tel. (+62)-22-7301477. There are many branches outside the city.

AA Laksana, Jl. Soekarno Hatta 494, Tel. (+62)-22-7509303. There are 2 other branches: Jl. Jakarta 21 and Jl. Cihampelas 30. A big self-service eatery with long tables already filled with plates of food. Take what you want and ask the server to count the plates when finished.

Ampera, The famous Sundanese restaurant in Bandung with cheap price and lot of branch. Can be found at Jl. Sukarno Hatta (Cigereleng), Jl. Sukarno Hatta (Sanggar Hurip), Jl. Sukarno Hatta (Metro), Jl. Pajajaran, Jl. Pungkur, Jl. Dewi Sartika (Kebon Kalapa), Jl. Taman Citarum, Kepatihan Plaza and Jl. Raya Lembang.

Saung Kabayan, Jl. Dr. Djunjunan.

Raja Sunda, Jl. Dr. Djunjunan.

Sambel Cibiuk, Jl. Merak.

Bumbu Desa, newer and more prestigious sundanese traditional restaurant, branch in Bandung can be located at Jl. Laswi No. 1, Tel. (62)(22) 7100539, Jl. Pasirkaliki No. 160, Tel. (62)(22) 4234330 and Rumah Mode Jl. Dr. Setiabudhi No. 41, Tel. (62)(22) 91147980.

Ibu Haji Ciganea, famous sundanese food restaurant from Purwakarta, Bandung branch can be located at Jl. Lodaya No. 29, Tel. (62)(22) 7314291

Asian Restaurants
Coca Suki, Jl. Ir. H. Juanda (Dago) 173. A branch of Thailand restaurant Coca [23].

Hoka Hoka Bento, Jl. Merdeka 47 Tel.: (62)(22) 424 5494. Japanese Restaurant. Menu: ekkado, chicken katsu, sukiyaki, koori kon nyaku, shrimp ball, beef yakiniku, shabu-shabu, teriyaki, udon. Opening hours: 10.00 - 22.00. Price: approx. US$ 4/person. Other branch : Bandung Electronic Center 3rd Fl., Bandung Trade Center 3rd Fl., Istana Plaza 3rd Fl., Mall IITC Kopo GF., Borma Jl. Terusan Jakarta No. 53E, Metro Indah Mall GF., Kings Shopping Center 1, 4th Fl., Jl. Dr. Setiabudhi No. 61, Stasiun Bandung Jl. Kebon Kawung, Hero Jl. Buah Batu No. 237, Yogya Jl. Sunda No. 60 4th Fl.

Hanamasa, Istana Plaza. Jl. PasirKaliki. Jl. Merdeka 39-41 Telp: (62)(22) 4204426. Japanese restaurant. Menu: yakiniku, shabu-shabu, robatayaki, beef, chicken, seafood. Opening hours: 11.00 AM to 10.00 PM. Price: approx. US$ 22/person.

Sushi Tei, Jl.Sumatra No.9. Telp : (62) (22) 4223181

Western Restaurants

Glosis Restaurant at Cihampelas Walk (Ciwalk). Jl. Cihampelas, Bandung. Price: approx. US 8/person

Cafe Venezia. Jl. Sukajadi 205, Bandung. Telp.: (62)(22) 2031277. Italian restaurant. Menu: pasta, pizza, fried chicken, salad, soup. Opening hours: 09.00 - 23.00. Price: approx. US$ 15/person. Nowadays the name has been changed to Vienna cafe & resto which give more variative foods.

Tony Roma's Jl. Sumatra 1, Bandung 40000 West Java Tel: (62)(22) 422 4656. Fax: (62)(22) 422 4660. American Restaurant. Menu: ribs, steaks, soup, salad. Price: splurge.

Sadewa Steak Near Pajajaran, 5 minutes from Airport, 10 minutes from Railway Station. Jl. Sadewa 24, Bandung. Specialize European Steak and Pasta, Unique menus, Cozy place. Open daily at 16.30 - 22.00. Price: approx. US$ 4/person.

Canary. Jl. Ir. H. Juanda 28, Bandung. Tel.: (62)(22) 423 8928. International Restaurant. Menu: hamburger, steak, fried chicken, sate, soup, salad. Opening hours: 07.00 - 21.00. Price: approx. US$ 7/person.

Pizza Hut, well known international brand for Pizza, there are a lot of it branch in Bandung such as in Bandung Indah Plaza GF, Mollis GF, Kings Shopping Center 2 GF, Bandung Supermall, Istana Plaza GF, Carrefour Kiaracondong, Jl. Dr. Setiabudhi, Jl. Buah Batu, Jl. Kopo Bihbul, Jl. Ir. H. Juanda.

McDonald's, American fast food restaurant mainly in Burger and Fried Chicken, you can find McD branch in Bandung at Bandung Indah Plaza GF, Premiere Plaza GF, Kings Shopping Center 2 GF, Kepatihan Plaza 3rd Fl, Istana Plaza Parking Ground, Istana Plaza 3rd Fl, Dago Boutique Apartment, Griya Jl. Buah Batu, Jl. Dr. Setiabudhi, Jl. Jendral Gatot Subroto. Delivery number: 14045.

KFC, best brand for fried chicken, located at Jl. Pajajaran No. 68, Jl. Buah Batu No. 189B, Tel. (62)(22) 7321887, Jl. RE. Martadinata No. 72, Tel. (62)(22) 4261465, Jl. Sukarno Hatta No. 423, Tel. (62)(22) 7562076, Jl. Kepatihan No. 19A, Tel. (62)(22) 4208660, Bandung Supermall, Bandung Trade Center GF, Jl. Dr. Setiabudhi No. 169, Tel. (62)(22) 2017616, Jl. Merdeka No. 27, Jl. Ir. H. Juanda No. 40-42, Tel. (62)(22) 4218965, Jl. Kopo No. 599, Paris Van Java Mall GF, Metro Indah Mall GF,

Mexican Restaurants
Amigos Restaurant at Le'aries Garden Hotel. Jl. Terusan Pasteur Annex, Bandung. Telp: (62)(22) 200 5401 Fax: (62)(22) 200 7406 [24] Price: approx. US 6/person

Seafood Restaurants
Mustika Jaya Sari Jl. Ciumbuleuit No. 39, Bandung. Tel.: (62)(22) 203 8539. Menu: fish, prawn, crab, salad, fried chicken. Price: budget.

Ice Cream and Pastry
Food in Bandung does not stop at the restaurants/cafes. There are plenty of bakeries in the city that you can buy some pastries. Some of them have high popularities that you must take a queue even before the shop is open in the morning.

Pastry
Sumber Hidangan, it is located at Jalan Braga 20, the colonial downtown of the city. The bakery was opened as Het Snoephuis (which means The Candy House) in 1929. The interior is still the same as it was. Breads and cookies' names are in Dutch, such as Zwieback,Roomsoes, Krentenbrood, Saucijzenbrood, Suiker hagelslaag. Its old-time ambience and original menu attracts tourists and long-time patrons, but the run-down premise and declining sophistication of its foods and services suggest a (losing) struggle to remain in business. Open daily from 0830-1900 (close on Sunday).

Bawean Bakery, it is located at Jalan Bawean 4. Bawean Bakery was established in 1946 and its name was Sweetheart Bakery until they changed their name during the New Order regime. The new name is taken from the shop location in Jalan Bawean. Their specialties are all kind of cake that are baked using rum, like nougat rolls, brownies, and so on. By using this alcoholic ingredient, their cakes taste a bit bitter and can be kept until 6 days.

Brussel's Spring, it is located at Jalan Sumatera next to Exsport Station, bag store. It's steaks and waffle ice creams are very tasteful and it's a must try culinaire. The prices are quite expensive compared to local food, which range between 20,000 and 75,000.

Kartika Sari, try the famous cake: pisang molen, a cake stuffed with banana. Very delicious.
There are 6 stores: Jl. Kebon Jukut 3C, Jl. Buah Batu 165A, Jl. H. Akbar, Jl. Kopo Sayati 111A, Jl. Terusan Jakarta 77E, Jl. Ir. H. Juanda (Dago).

Brownies Kukus Amanda, Jl. Rancabolang 29, Jl. Lodaya 8, Jl. Purwakarta. Try brownies kukus, steamed brownies with melted chocolate inside. Soft and very delicious. It's very popular that you might have to queue before it opens.

Brownies Primarasa, Jl. Kemuning 20, Jl. Buah Batu 169A, and Jl. Peta 169. Its speciality is the chocolate brownies.

Dunkin Donuts, Jl. Ir. H. Juanda No. 51, Bandung. Tel.: (62)(22) 4208617. Airport Hussein Sastranegara. Bakery chain. Menu: donuts, croissant, sandwich. Price: approx. US$ 3/person.

Sus Merdeka, Jl. Merdeka (in front of Bandung Indah Plaza). Famous for its Choux/Puff pastry with rum butter filling.

J.Co Donuts & Coffee, domestic well known donuts shop with fascinating flavor, located at : Paris Van Java Mall GF, Istana Plaza GF, Bandung Supermall GF, Cihampelas Walk GF.

Ice cream
Braga Permai (formerly Maison Bogerijn), Jl Braga 58, Bandung 40111, Tel.: (62)(22)420 1831. Famous ice cream parlor in Bandung.

Baskin and Robbins, Jl Sukajadi 232, Bandung 40153. Tel.: (62)(22) 203 8457. JL. RE Martadinata No. 225, Tel.: (62)(22) 720 8122. Jl. Gatot Subroto No. 289, Bandung 40273. Tel.: (62)(22) 910 1404. Istana Plaza, Jl. Pasir Kaliki 121-123 Bandung, Tel.: (62)(22) 6000403. [25]. Ice cream parlor.

Rasa Bakery, visits Rasa bakery means visits one of best ice cream, place in Bandung. It is located at Jalan Tamblong which is intersected with Jalan Asia Afrika. The traditionally made ice cream's prices ranged between 10000 to 20000 rupiah.

I Scream for Ice Cream, Jl. Hariangbanga.

Drink
As the sale of alcoholic drinks is to be banned at public restaurants (although you can find them in upscale public restaurants), it will be difficult to find liquor, except at bars, night clubs, hotels and 24-hour mini markets. However, drinking fresh icy yogurt or juice is very tempting, especially after spending a day in a hot sun. These are some famous drinking places to try:

Yoghurt Cisangkuy, Jl. Cisangkuy (near Gedung Sate complex). It has many flavours of fresh yogurt with fresh fruits. Very suitable as a resting place after walking in the hot weather.

Es Cendol Elizabeth, in front of the Elizabeth bag shop at Jl. Otto Iskandar Dinata and Jl. Cihampelas. Cendol is an Indonesian drink made with coconut and coconut milk, served with ice cubes and sweet brown sugar.

Bandoengsche Melk Centrale (BMC), Jl. Aceh 30, in an old Dutch colonial house. They specialize in fresh milk beverages.

Rumah Kopi, Jl. Awiligar (near baso Lela). It literally means "coffee house". They serve many kinds of coffee at cheap prices.

Susu Segar Lembang, at many street vendors in Lembang. It is outside the city, but it would be nice to stop if you do a sidetrip to Lembang.

Es Sekoteng Bungsu, Jl. Bungsu 29. Es sekoteng is a grated ice cube with avocado, young coconut and kolang-kaling (some local preserved fruit).
For alcoholic drinks you can buy it in these stores:

Dago 34, Jl. Dago no. 34. Located in the heart of Dago.

Warung Internasional, Jl. Dago. it located near Dago 34.

Taurus, located near Alun-Alun, it's easy to find.

Sleep

North Bandung / Dago / Jl. H. Juanda:
Holiday Inn Jl. Ir. H. Juanda (Dago) 31-33, ph: +62 22 4211333 (bchibid@bdg.centrin.net.id fax: +62 22 4216666) [26] - lower Dago area. Class: 4 Stars.

The Luxton Jl. Ir. H. Juanda (Dago) 18, ph: +62 22 4220 700 fax: +62 22 4220 600) [27] . Class: 4 Stars.

Sheraton Inn Jl. Ir. H. Juanda (Dago) 390, ph: +62 22 2500303 (fax: +62 22 2500301) [28] - upper Dago area, close to the dago golf center. Class: 5 Stars.

Jayakarta Jl. Ir. H. Juanda (Dago) 381A, h: +62 22 2505888 (bandung@jayakartahotelsresorts.com fax: +62 22 2505388) [29] - upper Dago area. Class: 4 Stars.

Patra Jasa, Patra Jasa Bandung. Jl. Ir. H. Juanda 132. Tel.: (62)(22) 250 4664. Fax : (62)(22) 250 4995. Close to Bandung Institute of Technology. Class: 2 stars.

Geulis, Jl. Ir. H. Juanda no. 129. Tel. (62)(22) 250 7777 / 250 3600. Fax (62)(22) 250 3086. Class : 3 stars.

Marbella Dago Pakar, Komplek Resort Dago Pakar, Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan. Class : 5 Stars.

Garden Permata, Jl. Lemahneundeut no. 7 Bandung 40164. Tel : (62)(22) 2011000. Class : 4 Stars.

GH Universal, Jl. Setiabudhi 376 Bandung 40143 Tel : (62)(22) 2010388. Class : 5 Stars.

Villa Roberni Villa Istana Bunga, V3, ph: +62 22 2789443 / +6281514030077 (villaroberni@roberni.com fax: +62 22 2789443) [30] - North Bandung, Parongpong - Cisarua. Class: Villa.
Central Bandung:

Aston Hotel and Residence Jl. Braga 99-101, Bandung 40111, ph: +62 22 84460000 (fax: +62 22 84460100) [31] - a hotel inside the Braga City Walk. Class: 4 stars.

Grand Preanger Jl. Asia-Afrika 81, Bandung 40111, ph: 0-800-182-1112 (toll free) or +62 22 4231631 (preanger@indosat.net.id fax: +62 22 4231631) [32] - Alun-Alun area, the facade has an art-deco style. Class: 5 stars.

Panghegar Jl. Merdeka 2, Bandung 40111, Tel.: (62)(22) 4232286 (hp@hotelpanghegar.com fax: +62 22 4231583) [33] - at the city center with a revolving restaurant on the roof. Class: 4 Stars.

Hilton Bandung Jl. HOS Tjokroaminoto No. 41-43, Bandung, Indonesia 40182, ph: +62 22 8606 6888 (fax: +62 22 8606 6999 ) [34] Class: 5 stars.

Hyatt Regency Bandung, Jl. Sumatera 51, Bandung 40115, Tel.: (62)(22) 4211234 (bandung.regency@hyatt.com fax: +62 22 4210380) [35] - at the city center. 252 rooms and suites with Indonesian decor, marble bath, working desk with broadband internet access, daily newspaper, in-room coffee and nightly turndown. Regency Club lounge for free continental breakfast, evening cocktails and canapes. Class: 5 stars.

Santika Jl. Sumatera 52-54, Bandung 40115. Tel: (62)(22) 420 3009 (bandung@santika.com fax: +62 22 4239601) [36] - at the city center. Class : 3 Stars.

Savoy Homann Jl. Asia-Afrika 112, Bandung 40261. Tel.: (62)(22) 4232244 (savoy@bdg.centrin.net.id fax: +62 22 4236187) [37]. Bandung's oldest hotel and one-time host to Charlie Chaplin and Yasser Arafat, among many others. The current building is a striking art-deco work from the 1930s. Getting a little long in tooth, but under renovation as of 2007. Class : 4 stars.

Vue Palace Hotel Jl. Otto Iskandardinata no. 3, Bandung 40117. Tel.: (62) (22) 4266288 info@vuepalacehotel.com). Class : 4 stars.

Cimbuleuit:

Malya Jl. Ranca Bentang 56-58, Bandung 40142, ph: +62 22 2030333(reservation@malyabandung.com fax: +62 22 2030633) [38] - superb view to the northern hills and try the swimming pool. Class: 3 Stars.

Other:

Hotel Mitra ,Jl. WR. Supratman No.98 Bandung 40122 , Tel.: (62)(22) 7207245. Fax: (62)(22) 7218304.[39] Class: 3 Stars.

Arion Swiss Bellhotel (formerly Citra Cikopo), Jl. Otto Iskandardinata no. 16 Bandung 40171, Tel.: (62)(22) 4240000. Fax: (62)(22) 4266270. Class: 4 Stars.

Grand Aquila Jl. Dr. Djundjunan (Terusan Pasteur) 116, Bandung 40173, ph: +62 22 2039280 (reservation@aquila-international.com fax: +62 22 2039282) [40] - nearby the Pasteur toll gate. Class: 5 Stars.

Papandayan Jl. Jend. Gatot Subroto 83, Bandung 40262, ph: +62 22 7310799 (papandayanhotel@indocater.co.id fax: +62 22 7310988) [41]. Class: 4 Stars.

Horison Jl. Pelajar Pejuang 121, Bandung 40264. Tel.: (62)(22) 7305000 [42] - in the residential Buah Batu area. Class: 4 Stars.

Cihampelas :

Nalendra Jl. Cihampelas no. 225 - 229, Bandung 40131, ph: +62 22 2034000([43] fax: +62 22 2033640). Cozy hotel at the center of the shopping area. Try the fish at the restaurant. Class : 3 stars.

Novotel Bandung Jalan Cihampelas No 23, Bandung,40171. Tel: (62) (22) 4211001. ([44]- Fax: +62 22 4212999. Class : 4 Stars.

Aston Tropicana Hotel Jalan Cihampelas no. 125-129, Bandung 40131. Tel (62) (22) 2030101. ([45]. Class : 5 Stars.

Villa Punclut, Jl. Bukit Raya Timur No. 504, Ciumbeleuit, ☎ +62812 1301 6022, [46]. Email: Rumah.kedamaian@gmail.com. Class:Villa edit

Contact
Tourist promotion office
Dinas Pariwisata Kota Bandung: JL. Ahmad Yani No. 227 Bandung, Telp. (62)(22) 7210768. [47].
Jl. Stasiun Timur No. 1, Tel.: (62)(22) 421 6648.

Emergency
Ambulance: 118.
Police: 110.
West Java Police HQ (Polda Jawa Barat) : Jl. Soekarno Hatta No. 748, Tel.: (62)(22) 7806392.
Police stations:
Greater Bandung (Polwiltabes Bandung), Jl. Merdeka
West Bandung (Polresta Bandung Barat), Jl. Sukajadi No. 141A, Tel.: (62)(22) 203 1615.
East Bandung (Polresta Bandung Timur), Jl. AH. Nasution No. 21, Tel.: (62)(22) 7805981.
Central Bandung (Polresta Bandung Tengah), Jl. Jend. Ahmad Yani No. 282, Tel: (62)(22) 7200058, (62)(22) 7271115.
Bandung (Polres Bandung), Soreang.
Cimahi (Polres Cimahi), Jl. Raya Cibabat, Tel.: (62)(22) 2031181.

Consulate
Royal Netherlands Honorary Consulate, Jl. Dayang Sumbi No. 3, Tel.: (62)(22) 250 6195, Fax.: (62)(22) 250 6197
France Consular Agency, Jl. Purnawarman No. 32, Tel.: (62)(22) 421 2417, Fax.: (62)(22) 420 7877
Hungary Honorary Consulate, Jl. Padasaluyu Utara II No. 3, Tel.: (62)(22) 201 0354, Fax.: (62)(22) 201 4407
Poland Honorary Consulate, Jl. Bukit Pakar Utara No. 75, Bandung 40198, Tel.; (62)(22) 250 3765.

Hospitals with 24 hours emergency rooms
RS Umum Pusat Dr Hasan Sadikin, JI. Pasteur No 38, Tel.: (62)(22) 203 4953.
RS Santo Borromeus, JI. Ir. H Juanda No 100, Tel.: (62)(22) 250 4041. (62) 22 255 2000
RS Rajawali: Jl Rajawali 38 Bandung. Tel.: (62)(22) 6011913
RS Advent Bandung, JI. Cihampelas No 161. Tel.: (62)(22) 203 4386.
RS Immanuel Bandung, JI. Kopo No 161. Tel.: (62)(22) 500 1656.
RS Santo Yusup Bandung: Jl Cikutra No.7 Bandung, Tel.: (62)(22) 7208172.
RS Muhammadiyah Bandung: Jl. KH Ahmad Dahlan No.53, Tel.: (62)(22) 730 1062.
Santosa Bandung International Hospital: Jl. Kebonjati No.38 Bandung, Tel.: (62) (22) 4248 555.
RS Kebonjati : Jl. Kebonjati No. 152 Bandung.
RS Advent : Jl. Cihampelas No. 161 Bandung.
RS Al Islam Bandung : Jl. Sukarno Hatta No. 644 Bandung.

Get out
There are some sidetrips to the mountain range surrounding Bandung:
North: mount Tangkuban Perahu. Lembang is a favourite weekend break destination at the base of the mountain with hiking trail and active volcanic crater. You can stay at Sari Ater [48], a natural hot spring water complex, or rent a villa. In the vicinity, Maribaya park offers a wonderful waterfall traps.

South: tea plantation. Ciwidey and Pangalengan are the main destination to the south mountains. Situ Patenggang lake in the middle of tea plantation in Ciwidey offers you a relax time in a boat, fishing, camping or in a bungalow. A few kilometers from the lake, there is Kawah Putih (white crater), made by sulfuric activity in the area with a camping park, called Ranca Upas.

West: chalk mountain range. There is not much nature destination in the west, except Situ Ciburuy lake at the side of the main road hub to Cianjur and the Saguling dam. You might also want to taste peuyeum, a local food made from fermented rice. If you are hungry, there are plenty of good Sundanese restaurants in the vicinity, because the road to the west is the main hub between Bandung to Jakarta.

East: a link of Bandung to the eastern part of West Java and to neighbouring Central Java province. You can go to Cirebon (about 2-3 hours), a coastal city known for fishing and oil industries. To the southeast you can go to Garut (about 1 hour), a resort city in the valley of mountain, well known for dodol snack.

source: wikipedia